
loading…
Foto: Dok. Istimewa
Kisah Ahmad menggambarkan pergeseran cara anak muda daerah mencari nafkah di tengah tumbuhnya ekonomi kreator. Di balik peluang itu, pengalamannya juga memperlihatkan sisi rapuh profesi streamer, mulai dari pendapatan yang tidak menentu, minimnya ekosistem kreator di kota kecil, hingga kelelahan mental akibat harus tampil ramah di depan kamera berjam-jam.
Ahmad menegaskan, ia tidak berhenti bekerja karena terkena pemutusan hubungan kerja. Keputusan itu ia ambil setelah menghitung ulang sisa gaji yang dibawa pulang setiap bulan.
“Saya menyadari bahwa ini keputusan sadar saya sendiri karena gaji PT itu dapat bersihnya hanya sedikit, karena belum juga dipotong dengan biaya makan, kos, dan keperluan sehari-hari. Jadi saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan di PT, lalu saya mulai belajar bikin konten di Facebook, YouTube, dan TikTok sekalian sambil live streaming. Alhasil ada perkembangan jadi menghasilkan uang, dari sedikit yang didapat menjadi banyak yang didapat per bulannya,” ujar Ahmad.
Enam tahun menekuni dunia siaran langsung, akun TikTok yang ia kelola kini diikuti sekitar 46.000 akun. Setiap sesi siaran rata-rata ditonton sekitar 100 orang, dengan lonjakan penonton pada akhir pekan. “Momen paling ramai adalah di hari Minggu, bisa tembus 500 penonton,” katanya.
Sumber pendapatan utamanya berasal dari dukungan langsung penonton, bukan dari iklan. “Penghasilan saya sebenarnya untuk saat ini dari gift TikTok plus Saweria, itu penghasilan paling besar, karena adsense dari YouTube baru saja monetisasi dan job fotografi itu jarang sekali ada job,” ucapnya.
Bertumpu pada satu sumber penghasilan membuat Ahmad sempat terguncang ketika pendapatannya turun drastis. Saat itu, ia bertahan dengan memanfaatkan peralatan kamera yang dibeli dari hasil siaran. “Saya mengatasinya saat itu dengan menjadi fotografi untuk anak-anak remaja, seperti menyewakan alat foto saya untuk mereka pakai, dan kadang saya diminta ikut untuk menjadi fotografi mereka saat liburan,” ujarnya.

Leave a Reply