loading…

Pengamat keamanan dan terorisme dari UI, Muhamad Syauqillah menyoroti bagaimana kelompok ekstrem secara konsisten mencari celah situasi politik untuk menyusupkan agenda mereka. Foto/Ist

JAKARTA – Kepedulian masyarakat Indonesia terhadap dinamika geopolitik global hari ini berada di persimpangan yang rentan antara empati kemanusiaan dan jebakan propaganda. Narasi konflik di berbagai belahan dunia, mulai dari krisis Houthi-Arab Saudi, hingga isu sekularisme di Azerbaijan kerap dibajak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Amplifikasi isu ini secara sengaja dimanfaatkan untuk mendelegitimasi sistem bernegara. Alih-alih meredakan konflik dan menyuarakan perdamaian, kelompok ekstrem dengan mudah membungkusnya dengan narasi perpecahan dan sistem tunggal kenegaraan, misalnya khilafah.

Baca juga: Bermula dari Satu Klik, Algoritma Perkuat Paparan Radikalisme di Ruang Digital

Hal itu disampaikan pengamat keamanan dan terorisme pada Kajian Terorisme di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (UI), Muhamad Syauqillah yang menyoroti bagaimana kelompok ekstrem secara konsisten mencari celah situasi politik untuk menyusupkan agenda mereka. Isu-isu luar negeri sengaja diimpor untuk mereproduksi narasi yang mendelegitimasi pemerintah dan mengapitalisasi gerakan ekstrem.

“Propaganda seperti ini sebenarnya adalah template. Tawarannya selalu merespons seperti dinamika di Suriah atau saat fenomena Arab Spring, lalu diimpor dengan berbagai varian ideologi yang melatarbelakanginya,” ujar Syauqillah di Jakarta, Selasa (27/10/2026).



–