loading…

Aktivitas merger dan akuisisi (M&A) di kawasan Asia Tenggara mengalami peningkatan. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA – Aktivitas merger dan akuisisi (M&A) di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN meningkat lebih dari 30% secara tahunan sepanjang 2026, didorong antara lain oleh meningkatnya pembiayaan terkait kecerdasan buatan (AI) dan ekspansi bisnis perusahaan. Data Dealogic mencatat nilai transaksi M&A mencapai 140 miliar dolar AS, sementara penerbitan di pasar modal ekuitas dan utang secara gabungan melampaui 180 miliar dolar AS.

“ASEAN merupakan salah satu kawasan utama bagi Citi secara global. Kawasan ini adalah rumah bagi banyak perusahaan kelas dunia serta perusahaan unggulan baru yang terus berkembang dan semakin aktif memanfaatkan pasar modal secara kompetitif untuk mendanai ambisi pertumbuhan mereka,” ujar Head of Investment Banking Citi untuk ASEAN Matthew Nimtz dikutip pada Kamis (22/10/2026).

Baca Juga: Soroti Penanganan Karhutla, Jonan Tekankan Kerja Sama Anggota ASEAN

Di tengah peningkatan aktivitas transaksi tersebut, pendapatan bisnis Investment Banking Citi di ASEAN tumbuh 35% secara tahunan. Sepanjang 2026, Citi terlibat dalam transaksi M&A di kawasan tersebut dengan nilai mendekati 20 miliar dolar AS serta membantu klien menghimpun hampir 25 miliar dolar AS melalui pasar modal global.

Penghimpunan dana tersebut dilakukan melalui beragam instrumen, termasuk penerbitan obligasi internasional, penawaran umum perdana saham (IPO), obligasi konversi, dan penawaran saham lanjutan (follow-on offering). Secara keseluruhan, Citi telah memimpin hampir 30 transaksi penerbitan di ASEAN sepanjang tahun ini, dengan rata-rata hampir tiga transaksi per bulan.

Sejumlah transaksi yang melibatkan Citi pada 2026 antara lain perannya sebagai penasihat keuangan bagi Indosat dalam pembentukan Zankore, termasuk mendukung pembiayaan ekuitas dan utang. Citi juga menjadi penasihat KKR dan Singtel dalam proses akuisisi STT GDC senilai 10,9 miliar dolar AS.



–