loading…

Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Kerajaan Arab Saudi, kembali diserang rudal Houthi Yaman pada Sabtu (10/10/2026). Foto/Middle East Eye

RIYADH – Dalam sepekan ini, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Kerajaan Arab Saudi, sudah tiga kali diserang rudal oleh kelompok Houthi Yaman dengan total korban tewas 16 orang. Serangan terbaru dan paling mematikan terjadi pada Sabtu, di mana 12 orang tewas dan 309 lainnya terluka.

Jauh hari sebelum Houthi menggencarkan serangan, tepatnya pada 7 Agustus, Arab Saudi bersama Pakistan dan Turki membentuk Pakta Pertahanan Bersama Makkah atau Aliansi Makkah. Turki dan Pakistan sesumbar bahwa Aliansi Makkah mirip dengan NATO yang mengamanatkan respons kolektif jika salah satu anggota diserang. Untuk itulah, Aliansi Makkah dijuluki sebagai “NATO Islam”.

Baca Juga: Rudal Houthi Serang Bandara Riyadh Arab Saudi, 12 Orang Tewas, 309 Terluka

Faktanya, tak ada respons militer kolektif dari Aliansi Makkah seperti yang diklaim Pakistan dan Turki. Lalu, apa fungsi sebenarnya dari Aliansi Makkah?

Selain serangan terbaru terhadap Bandara King Khalid, Houthi sebelumnya menyatakan telah menyerang kilang minyak dan pangkalan militer di Arab Saudi.

Tiga pihak dalam Aliansi telah Makkah bertemu pada hari Senin (5/10/2026), kemudian merilis pernyataan yang menegaskan: “Keamanan masing-masing pihak merupakan bagian tak terpisahkan dari keamanan kolektif ketiga negara, dan bahwa perwujudan Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah ke dalam langkah-langkah praktis menunjukkan kredibilitas komitmen terhadap pertahanan kolektif.”

Pernyataan bersama itu seperti isyarat bahwa tentara Pakistan dan Turki akan terlibat dalam pertempuran aktif bersama pasukan pertahanan Arab Saudi melawan Houthi. Faktanya tidak sepenuhnya demikian, atau setidaknya tidak dalam waktu dekat ini.

Isi Pernyataan Pakta Makkah

Arab Saudi, Pakistan, dan Turki menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah pada 7 Agustus 2026. Perjanjian Makkah menyatakan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara tersebut akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya. Sebelumnya, Arab Saudi dan Pakistan telah menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Strategis (SMDA) pada 17 September 2025.



–