loading…

Negara-negara ASEAN menghadapi ancaman krisis energi berkepanjangan akibat konflik di Timur Tengah. FOTO/SCMP

MANILA – Negara-negara ASEAN menghadapi ancaman krisis energi berkepanjangan akibat konflik di Timur Tengah yang memperlihatkan tingginya ketergantungan kawasan terhadap pasokan energi impor. Kondisi tersebut mendorong para menteri energi ASEAN untuk memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap minyak mentah dari Timur Tengah.

“Yang dibawa oleh krisis ini adalah fokus yang lebih tajam pada ketahanan,” kata Wakil Menteri Energi Filipina Felix Fuentebella, dikutip dari Reuters, Selasa (6/10/2026).

Baca Juga:Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad Mundur di Tengah Blokade AS

Fuentebella mengatakan keamanan energi kini bergeser dari isu teknis menjadi prioritas bagi para menteri dan pemimpin ASEAN. Pertemuan para menteri energi ASEAN di Manila, Filipina, pekan ini diperkirakan membahas langkah penguatan keamanan pasokan bahan bakar regional, termasuk penerapan respons darurat terkoordinasi melalui Kerangka Perjanjian Keamanan Minyak ASEAN (ASEAN Petroleum Security Agreement/APSA).

Ketergantungan ASEAN terhadap minyak Timur Tengah mencapai lebih dari separuh kebutuhan kilang di kawasan tersebut. Pusat Energi ASEAN memperingatkan gangguan serius terhadap pasokan dari Timur Tengah dapat menempatkan volume minyak yang setara dengan hampir 28% konsumsi akhir minyak ASEAN dalam risiko, sehingga penguatan mekanisme keamanan energi menjadi semakin mendesak.

Namun, keterbatasan kapasitas penyimpanan dan persediaan energi masih menjadi hambatan dalam penerapan APSA. “Ini lebih tentang mempersiapkan krisis berikutnya. Cadangan adalah penyangga, bukan strategi,” kata peneliti senior ISEAS-Yusof Ishak Institute Christopher Len dalam webinar yang diselenggarakan Center for Strategic and International Studies (CSIS).



–