IEA memperkirakan, proyek-proyek interkoneksi regional yang saat ini direncanakan membutuhkan sekitar US$27 miliar antara 2025 dan 2040, sekitar 14 kali investasi pada interkonektor Asia Tenggara sejak 1970-an.

“Potensi sumber daya energi terbarukan yang beragam di kawasan ini, termasuk tenaga surya, angin, air, panas bumi dan biomassa berkelanjutan modern, dapat mendukung diversifikasi pasokan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor,” demikian kajian IEA.

Langkah-langkah diperlukan untuk meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi, antara lain, pembangkit listrik yang fleksibel dan peningkatan kapasitas jaringan, kata IEA.

Energi bersih dapat memperkuat ketahanan energi, kata Peter Govindasamy, direktur eksekutif Energy Studies Institute di National University of Singapore.

“Energi terbarukan, efisiensi, elektrifikasi, dan sistem energi terdistribusi sering dibahas dalam konteks iklim, tetapi semuanya sama pentingnya dari sisi ketahanan. Setiap unit listrik dari tenaga surya, angin, air atau panas bumi domestik mengurangi ketergantungan pada pasar bahan bakar internasional,” katanya.

Diversifikasi berarti memiliki bauran energi yang lebih beragam, berinvestasi pada energi terbarukan dan efisiensi, memperkuat jaringan dan penyimpanan energi, serta mengembangkan pengaturan regional yang dapat memberikan dukungan saat terjadi krisis, kata Lin.

“Tujuannya adalah memiliki lebih banyak pilihan dan menghindari mengganti satu ketergantungan dengan ketergantungan lain,” katanya.

Sementara itu, Asia Tenggara dapat mengurangi tekanan terhadap impor bahan bakar dan sistem kelistrikannya dengan meningkatkan efisiensi kendaraan, bangunan, peralatan rumah tangga dan peralatan industri, kata IEA.

“Efisiensi energi sering kali merupakan cara paling hemat biaya untuk memperkuat ketahanan energi karena mengurangi permintaan dan pengeluaran energi, sekaligus menekan kebutuhan investasi infrastruktur energi dan impor bahan bakar,” katanya.



Source link