loading…

Presiden Donald Trump memberi hormat ketika jenazah para tentara AS korban perang Iran tiba di Amerika Serikat. Foto/The White House

WASHINGTON – Pentagon merevisi jumlah personel militer Amerika Serikat (AS) yang tewas selama perang melawan Iran setelah sebelumnya jumlah kematian yang tercatat lebih rendah dari angka sebenarnya. Jumlah resmi korban tewas kini dinaikkan menjadi 21 personel.

Defense Casualty Analysis System (DCAS), sistem analisis korban militer AS, awalnya mencatat 18 personel militer AS tewas dengan penyebab terkait maupun tidak terkait pertempuran sejak perang dimulai pada 28 Februari.

Baca Juga: Politisi Israel: Membunuh Ayatollah Ali Khamenei Adalah Kesalahan

The Washington Post melaporkan bulan lalu, dengan mengutip enam pejabat AS, bahwa basis data tersebut tidak mencatat jumlah kematian yang sebenarnya. Menteri Perang AS Pete Hegseth bahkan menyangkal laporan itu dengan menyebutnya sebagai “kebohongan total”.

Pada Jumat pekan lalu, basis data tersebut diperbarui dengan memasukkan nama Mayor Sorffly Davius (46) dari Garda Nasional Angkatan Darat AS, yang tewas di Kuwait pada 6 Maret, serta seorang anggota Angkatan Laut AS yang identitasnya tidak diungkapkan dan tewas akibat bunuh diri pada September.

Basis data itu juga mencatat kematian Sersan Devin A. Seibel (26) yang tewas dalam kecelakaan saat latihan di Irak pada Mei. Namun, militer AS tidak mengaitkan insiden tersebut dengan perang melawan Iran dan mengklasifikasikannya sebagai bagian dari Operation Inherent Resolve, operasi yang telah berlangsung selama satu dekade untuk memerangi kelompok Islamic State atau ISIS.

Dengan dimasukkannya Seibel, jumlah keseluruhan personel militer AS yang tewas di Timur Tengah sejak 28 Februari mencapai 22 orang. Angka ini sesuai dengan jumlah yang sebelumnya dilaporkan surat kabar tersebut.

Catatan terbaru itu juga menunjukkan bahwa sebanyak 865 personel militer AS mengalami luka-luka.



–