Kementerian Luar Negeri Malaysia mengonfirmasi bahwa 55 warga negaranya di Nepal “saat ini tidak dapat dihubungi”, sementara gangguan parah pada jaringan komunikasi dan listrik menghambat upaya untuk mengontak mereka.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan, Kedutaan Besar Malaysia di Kathmandu bekerja sama erat dengan pihak berwenang untuk membantu warga yang terdampak.

“Saya telah menginstruksikan agar perwakilan kita diberikan semua sumber daya yang dibutuhkan,” kata Anwar.

“Pemerintah akan terus terlibat penuh hingga keberadaan seluruh warga Malaysia yang terdampak diketahui dan keluarga mereka mendapatkan dukungan yang dibutuhkan,” tambahnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyampaikan, sedikitnya 34 warga Australia yang tengah mengikuti perjalanan ziarah dan tur di Nepal hilang setelah banjir mematikan, tetapi informasi dari lokasi “sangat terbatas”.

Lima belas dari warga Australia yang hilang tergabung dalam perjalanan ziarah ke Gunung Kailash yang diselenggarakan agen perjalanan Himalayan Glacier. Rombongan itu juga mencakup warga India, AS, Kanada, dan Singapura.

Ke-15 orang tersebut merupakan warga Australia keturunan India, dengan anggota termuda seorang anak laki-laki berusia 11 tahun, kata CEO Himalayan Glacier Sagar Pandey.

Pandey mengatakan, pihaknya telah terbang dengan helikopter di atas daerah terdampak banjir dan meyakini peluang untuk selamat hanya “1 persen”.

“Tidak ada lagi bangunan buatan manusia, tidak ada permukiman yang tersisa. Semuanya rata … Saya yakin semuanya sudah tiada.”

Sementara jumlah orang hilang di wilayah Gyirong, Tibet, mencapai 558 orang, menurut laporan stasiun televisi pemerintah China CCTV pada Kamis, termasuk 260 warga negara asing. China mengatakan jumlah korban tewas tetap tiga orang.



Source link