Menurut Reuters, hingga 26 Oktober, indeks STAR 50 masih diperdagangkan sekitar 100 kali lipat dari total laba perusahaan konstituennya selama 12 bulan terakhir, turun dari puncak hampir 250 kali lipat.

Artinya, investor masih bersedia membayar mahal demi prospek pertumbuhan. Kondisi ini membuat saham rentan anjlok jika laba perusahaan meleset dari ekspektasi.

Kelvin Wong, analis pasar senior di platform perdagangan daring OANDA, mengatakan, saham China sangat rentan terhadap perubahan sentimen investor.

Mengutip data Goldman Sachs, Wong mencatat, saham terkait AI menyumbang sekitar 42 persen kapitalisasi pasar dan 57 persen aktivitas perdagangan saham kelas A yang tercatat di bursa China daratan serta saham kelas H yang tercatat di Hong Kong.

“Konsentrasi setinggi itu membuat pasar sangat rentan ketika investor mulai mengambil untung,” katanya.

Selain perdagangan spekulatif, analis juga menyoroti persoalan lebih mendasar: apakah lonjakan investasi AI China mampu menghasilkan laba berkelanjutan.

“Ini bukan sekadar koreksi valuasi yang terlalu tinggi,” kata Gary Ng, ekonom senior Asia Pasifik di Natixis.

“Investor mempertanyakan apakah permintaan bisa mendongkrak laba, terutama ketika belanja modal terus meningkat,” katanya, merujuk pada pengeluaran untuk peralatan dan infrastruktur.

Wong dari OANDA menyoroti ketatnya persaingan antarperusahaan teknologi China. Ia memperingatkan, perang harga dapat menekan margin laba meski permintaan kapasitas komputasi AI terus tumbuh.

Menurut analis, ketidakpastian geopolitik turut menambah tekanan. Pemasok China menghadapi kemungkinan pembatasan AS atas penggunaan peralatan mereka di pusat data Amerika, yang berpotensi membatasi akses ke pelanggan luar negeri.

Christopher Beddor, wakil direktur riset China di firma riset Gavekal Dragonomics, mengatakan, penurunan ini merupakan bagian dari aksi jual di kawasan serta menyusutnya likuiditas pasar belakangan ini.

“Prospek laba sejumlah perusahaan AI China juga menjadi kekhawatiran karena mereka kesulitan meraup pendapatan dari model AI terbuka (open-weight),” katanya, merujuk pada model yang parameternya tersedia untuk umum dan dapat digunakan serta dimodifikasi pihak lain.

UJIAN SESUNGGUHNYA BAGI AMBISI AI CHINA

Meski saham anjlok tajam, analis mengingatkan bahwa kemerosotan pasar saham tidak serta-merta berarti kemunduran ambisi AI China.

Menurut mereka, risiko yang lebih mendesak adalah melemahnya kepercayaan investor yang dapat menyulitkan perusahaan teknologi China mencari modal, terutama perusahaan dengan pengeluaran besar dan pendapatan terbatas.

“Penggalangan dana akan semakin sulit, baik dari sisi valuasi maupun waktu, terutama bagi perusahaan yang terus menghabiskan uang tanpa segera menghasilkan pendapatan,” kata Ng dari Natixis.



Source link