
loading…
Foto: Dok. Istimewa
Dalam rapat tersebut, pemerintah mendorong pembentukan ekosistem kemitraan berbasis koperasi yang menghubungkan langsung petani jagung sebagai produsen dengan peternak sebagai pengguna bahan baku pakan. Melalui target pengembangan lahan seluas 300 ribu hektare dengan asumsi produktivitas rata-rata 7 ton per hektare, potensi produksi jagung diproyeksikan mencapai 2,1 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,8 juta ton diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pakan peternak melalui koperasi dan kelompok peternak, sehingga tercipta hubungan pasokan yang lebih terencana, berkelanjutan, dan saling menguntungkan.
Untuk mengantisipasi potensi kelebihan produksi sekitar 300 ribu ton, BULOG disiapkan mengambil peran sebagai offtaker atau pembeli siaga yang menyerap surplus jagung petani. Melalui pendekatan sistem resi gudang, jagung yang terserap dapat dikelola sebagai cadangan untuk memenuhi kebutuhan peternak pada periode ketika pasokan mulai terbatas, termasuk melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Skema ini diharapkan mampu mencegah tekanan harga saat panen melimpah sekaligus menjaga kesinambungan pasokan jagung pakan sepanjang tahun.
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa pembangunan ekosistem jagung nasional harus menempatkan kepentingan petani dan peternak sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kita ingin petani jagung dan peternak Indonesia tumbuh bersama dalam satu ekosistem yang kuat. Petani harus memiliki kepastian pasar dan memperoleh harga yang layak, sementara peternak harus mendapatkan jaminan pasokan jagung dengan harga terjangkau. Melalui koperasi, kita satukan kekuatan dari hulu hingga hilir agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh petani dan peternak Indonesia.
Lebih lanjut, Mentan menegaskan pentingnya peran BULOG sebagai instrumen pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga jagung, khususnya ketika terjadi surplus produksi maupun peningkatan kebutuhan pakan. “Ketika produksi jagung melimpah, hasil panen petani harus tetap memiliki pasar. Di sinilah BULOG kita siapkan sebagai penyangga yang dapat menyerap kelebihan produksi, mengelola cadangannya, dan menyalurkannya kembali ketika peternak membutuhkan. Kita dahulukan kepentingan petani dan peternak Indonesia agar keduanya terlindungi dan usaha mereka terus berjalan,” ujar Andi.

Leave a Reply