loading…

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser melontarkan peringatan horor bahwa pasar minyak global kini kehilangan benteng pertahanannya (safety cushion), yang berpotensi memicu lonjakan harga BBM dan biaya hidup. Foto/Dok

JAKARTA – Dampak guncangan krisis minyak global akibat Perang Iran kian melumpuhkan aktivitas ekonomi dunia. Seiring gangguan armada di Selat Hormuz, Chief Executive Officer (CEO) Saudi Aramco , Amin Nasser melontarkan peringatan horor bahwa pasar minyak global kini kehilangan benteng pertahanannya (safety cushion), yang berpotensi memicu lonjakan harga BBM dan biaya hidup secara dramatis.

Dalam pidatonya di Energy Intelligence Forum di London pada awal bulan Oktober lalu, Nasser membeberkan fakta mengerikan. Bahwa sejak Perang Iran meletus, dunia telah kehilangan hampir 3 miliar barel pasokan minyak murni dan menyedot lebih dari 1 miliar barel dari cadangan komersial global.

Aramco mengestimasi stok komersial dunia kini tersisa di bawah 6 miliar barel, di mana porsi terbesarnya terkunci dalam infrastruktur pipa dan terminal operasional sehingga tidak bisa dipakai secara praktis.

Mengomentari komitmen negara-negara anggota G7 yang melepas 100 juta barel cadangan minyak darurat, Nasser memberikan penilaian yang sangat keras. Baca Juga: Harga Minyak Bakal Cetak Rekor Kenaikan Mingguan, Eskalasi Perang Iran Bikin Panik

“Cadangan minyak darurat mungkin bisa menyelamatkan kita selama satu musim dingin. Namun, langkah itu tidak akan pernah bisa menyelesaikan krisis pasokan jangka panjang,” tegas Amin Nasser.

Nasser menambahkan, untuk membangun kembali cadangan minyak yang terkuras sembari memenuhi konsumsi normal harian masyarakat dibutuhkan waktu hingga dua tahun. Bahkan, tanpa keberadaan pipa East-West milik Arab Saudi yang memintas Selat Hormuz, harga minyak acuan Brent diproyeksikan sudah menembus USD200 per barel.



–