loading…

Jolly, maskot agen AI Muse buatan Meta, tampil sebagai boneka berbulu yang imut dan mudah dipeluk. Imut di luar, tetapi urusan yang dititipkan padanya butuh akses. Foto: Ist

JAKARTA – Gemuk. Pipi merah. Ompong. Namanya Jolly. Boneka berbulu, mata besar, senyum polos. Anda bisa menitipkan banyak urusan padanya: memesan tiket untuk liburan, menyisir keuangan.

Jolly adalah maskot Muse, asisten AI buatan Meta. Jenisnya disebut agen: AI yang tidak berhenti pada menjawab pertanyaan, tetapi ikut mengerjakan tugas. Ia bisa berbaju. Ia bisa mengenakan headphone mungil kalau sedang ‘’bekerja’’.

Dulu orang rela menempuh jalan berliku demi mendapatkan Labubu. Maka akan mudah orang terpikat pada Jolly.

Jolly punya kawan. OpenAI memakai titik-titik bulat tanpa mulut. Genspark punya lobster berbulu. Pengguna Grok mengadopsi alien kecil kehijauan bernama Groklet. Semuanya lucu. Semuanya empuk. Semuanya muncul ketika orang mulai cemas AI akan menghabisi manusia.

Dari robot pembunuh ke boneka yang bisa dipeluk. Cepat sekali.

Tapi, kelucuan itu bukan hiasan. Ia strategi. Joshua Paul Dale, profesor di Chuo University, Tokyo, sekaligus pendiri bidang kajian Cute Studies, menjelaskan mekanismenya.

Melihat yang imut merangsang pusat kesenangan di otak, katanya, bahkan sebelum kita sempat berpikir. Kita pun cenderung bersikap ramah pada makhluk itu.

Sebelum sempat berpikir. Garis bawahi frasa itu.

Thiago Serra, profesor analitika bisnis di University of Iowa, mengingat Tesla. Dulu orang merasa harus menelan ‘’vitamin’’ ramah lingkungan dan merogoh kocek demi mobil listrik.



–