ASIA BISA TERDAMPAK KETERBATASAN DIESEL

Penghentian ekspor China terjadi pada saat yang sangat sensitif bagi pasar diesel, ketika pasokan global sudah tertekan akibat gangguan produksi di Timur Tengah dan serangan Ukraina terhadap kilang-kilang Rusia.

Rusia merupakan eksportir diesel terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Negara itu memberlakukan larangan ekspor pada Juli setelah serangan tersebut menekan pasokan dalam negeri dan kemudian memperpanjang pembatasan hingga Oktober.

Asia sangat rentan terhadap dampak penghentian ekspor China.

Di luar Hong Kong, Singapura merupakan pengimpor diesel terbesar dari China tahun ini, disusul Australia, Malaysia, Bangladesh, dan Filipina, menurut data Kpler. Vietnam dan Korea Selatan juga termasuk dalam 10 tujuan ekspor terbesar.

Namun, impor ke Singapura, yang merupakan pusat perdagangan minyak utama di kawasan, tidak selalu mencerminkan konsumsi domestik. Singapura juga memproduksi diesel untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor.

“Keputusan membatasi ekspor berarti pasokan dari China tidak akan membantu meredam harga dalam waktu dekat,” kata Kepala Riset Energi China di Oxford Institute for Energy Studies Michal Meidan kepada CNA.

“Yang paling rentan adalah negara-negara berpendapatan rendah yang akan kesulitan membayar pasokan alternatif,” tambahnya.

Goh dari Sparta Commodities mengatakan, diesel China biasanya diekspor ke negara-negara Asia Tenggara serta Australia.

“Namun, pasar memiliki cukup cadangan dalam jangka pendek karena negara-negara Asia lainnya juga meningkatkan operasi kilang untuk memproduksi diesel, terutama Korea Selatan dan India,” ujarnya.

India berada dalam “posisi yang baik untuk mengisi kekosongan” akibat penghentian ekspor BBM China, tulis kolumnis Reuters Gavin Maguire dalam komentarnya pada 5 Oktober, mengutip pulihnya impor minyak mentah India dan pemangkasan pajak ekspor BBM baru-baru ini.



Source link