loading…

Muhammad Wisnu Bilqisth, Pembimbing Pesantren Mahasiswa Universitas Darunnajah. Foto/Dok. SindoNews

Muhammad Wisnu Bilqisth
Pembimbing Pesantren Mahasiswa Universitas Darunnajah

SETIAP 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri. Tahun ini Kementerian Agama mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema ini mengingatkan saya pada satu pertanyaan yang sering muncul di benak ketika membimbing mahasiswa, yaitu bagaimana sebuah bangsa menyiapkan generasi yang bukan hanya pintar, tetapi juga berkarakter?
Jawaban yang saya yakini lahir dari pengalaman sehari-hari di pesantren mahasiswa, atau yang biasa disebut pesma.

Kampus pada umumnya unggul dalam mentransfer ilmu. Mahasiswa datang ke kelas, mendengarkan kuliah, mengerjakan tugas, lalu pulang. Setelah itu, urusan bangun pagi, ibadah, pergaulan, hingga cara mengatur waktu diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing mahasiswa.

Di sinilah celah itu muncul. Karakter tidak bisa dibentuk dalam dua SKS per pekan. Pesma mengisi celah tersebut dengan cara yang sederhana namun mendasar, yaitu menjadikan seluruh hari sebagai kurikulum.

Kurikulum Tersembunyi dari Bangun sampai Tidur
Di dunia pendidikan dikenal istilah hidden curriculum, yaitu nilai-nilai yang tidak tertulis di silabus tetapi dipelajari lewat pengalaman dan kebiasaan. Di pesma, kurikulum tersembunyi ini justru menjadi kekuatan utama. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, hari mahasantri diatur untuk membentuk watak.

Qiyamul lail dan salat Subuh berjamaah melatih disiplin dan melawan kemalasan. Piket, antre, dan hidup bersama dalam satu asrama melatih tanggung jawab dan empati. Halaqah dan kajian melatih adab terhadap ilmu dan guru. Jadwal magang dan jam tidur yang teratur melatih manajemen diri.



–