loading…

Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya (TEP UB) mendampingi petani Sorong merintis usaha pangan. Foto/istimewa

SORONG – Cabai dan tomat yang selama ini dijual segar, serta jantung pisang yang jarang dimanfaatkan, menjadi bahan bagi 50 istri petani di Kawasan Transmigrasi Klamono-Segun, Papua Barat Daya, untuk merintis usaha pangan olahan. Melalui pendampingan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya (TEP UB), mereka belajar menghasilkan produk bernilai tambah dengan sasaran pemasaran ke swalayan lokal hingga pusat oleh-oleh di Raja Ampat.

Pendampingan berlangsung melalui Sekolah Foodpreneur Pangan Lokal yang digagas TEP 19 UB di Kampung Wariyau, Distrik Klamono, dan Kampung Malasigit, Distrik Malabotom. Sejak September 2026, para peserta yang terbagi dalam 10 kelompok mendapat pembekalan untuk mengembangkan lima produk utama: sambal bawang, sambal kepiting, saus tomat, cabai tabur daun jeruk, dan abon jantung pisang.

Program ini berangkat dari keluhan petani mengenai rendahnya harga jual hasil kebun. Penjualan dalam bentuk segar membatasi nilai tambah yang diperoleh keluarga petani, sementara potensi usaha pengolahan pangan belum banyak dikembangkan.

Baca juga: Gandeng 10 Kampus Terbaik, 1.476 Patriot Muda Dikirim ke 53 Kawasan Transmigrasi

“Berdasarkan survei langsung di lapangan banyak petani yang mengeluhkan harga ekonomi tanamannya rendah,” ujar Dina Aqilla, anggota TEP UB di Klamono-Segun, Rabu (21/10/2026).

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim menggabungkan pembelajaran materi, pelatihan memasak dari rumah ke rumah, dan upaya perbaikan rantai distribusi. Pendampingan diarahkan agar peserta memahami proses usaha sejak pemilihan bahan hingga pemasaran.



–