Yvonne menegaskan Indonesia memiliki aturan yang jelas mengenai keterlibatan WNI dalam militer negara asing dan konsekuensinya terhadap status kewarganegaraan. Namun, aturan itu baru dapat diterapkan setelah informasi dan data terkait terverifikasi sesuai prosedur hukum.
“Apabila keterlibatan WNI dalam angkatan bersenjata negara asing dimaksud terverifikasi, hal tersebut merupakan tindakan individual dan tidak merepresentasikan kebijakan maupun posisi Pemerintah Indonesia.” kata dia.
Pemerintah, kata dia, akan mendalami kemungkinan para WNI direkrut melalui penipuan, eksploitasi, atau tawaran pekerjaan yang tidak sesuai dengan tujuan sebenarnya.
“Apabila terdapat WNI yang menjadi korban dalam proses tersebut, Pemerintah Indonesia akan mengambil langkah pelindungan yang diperlukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” kata dia.
Delapan WNI yang diidentifikasi oleh FISU adalah:
- Yuda Putra Pratama, 29 tahun
- Haryanto Dwi Kencana, 43 tahun
- Erwanda, 38 tahun
- Ngangun Hudri Fadli, 47 tahun
- Muhammad Syaripudin, 32 tahun
- M Hadi Maulana, 39 tahun
- Wahyu Oktavian Iskandar, 40 tahun
- Helmi Nuraha Hakim, 43 tahun
Menurut FISU, pemerintah Kremlin menjanjikan bayaran tinggi, pekerjaan non-tempur, percepatan memperoleh kewarganegaraan Rusia, dan jaminan sosial yang menarik kepada warga dari puluhan negara.
“Mereka bahkan sering kali tidak mengetahui ke mana sebenarnya mereka akan dikirim. Sebagian besar dari mereka berakhir di garis depan tanpa pelatihan, dan sebagian tewas hanya dalam beberapa pekan pertama,” ujar pernyataan FISU.
FISU mengatakan bahwa pola yang sama sebelumnya diterapkan terhadap warga Nepal, Kuba, Kenya, dan India.
Militer Rusia telah mencatat 450.000 kematian dari total 1,4 juta korban sejak melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022, menurut lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington pada Juli.
Meski Korea Utara telah mengirim ribuan tentara untuk bertempur bagi Rusia, warga dari banyak negara lain dilaporkan dibujuk dengan tawaran pekerjaan sipil yang menyesatkan.
Belum diketahui secara pasti berapa banyak orang yang direkrut dengan cara tersebut dan berapa banyak yang mendaftar sebagai tentara bayaran.
“Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, kini masuk dalam daftar negara yang menjadi pasar baru bagi Kremlin untuk mendapatkan tenaga manusia murah bagi perang.”
Selain menutupi kekurangan personel di garis depan, FISU mengatakan warga asing yang direkrut juga menjadi bahan propaganda untuk menunjukkan adanya dukungan global terhadap Rusia dalam memerangi Ukraina.
“Alasan lain perekrutan warga asing adalah meningkatnya ketidakpuasan di dalam negeri terhadap kondisi sosial-ekonomi, perang, dan rencana gelombang mobilisasi baru (tingkat ketidakpuasan mencapai 69 persen),” ujar pernyataan FISU.
Selain menutupi kekurangan personel di garis depan, FISU mengatakan warga asing yang direkrut juga dijadikan bahan propaganda untuk menunjukkan adanya dukungan global terhadap Rusia dalam perang melawan Ukraina.
Menurut CSIS, sekitar 125.000 hingga 150.000 tentara Ukraina tewas dalam perang, sementara total korban mencapai 525.000 hingga 625.000 orang.

Leave a Reply