KEBIASAAN ORANG AMERIKA MENGGUNAKAN TISU TOILET

Berbeda dengan masyarakat Indonesia yang umumnya menggunakan air untuk membersihkan diri setelah BAB, kebanyakan warga Amerika Serikat masih mengandalkan tisu toilet.

Survei YouGov pada 2023 menunjukkan bahwa 87 persen responden di Amerika Serikat mengaku selalu menggunakan tisu toilet setelah BAB. Sementara itu, hanya 14 persen yang menyatakan selalu menggunakan tisu basah.

Penggunaan bidet atau alat penyemprot air saat itu masih relatif terbatas. Survei yang sama menemukan hanya 6 persen responden memiliki akses terhadap bidet di rumah, meskipun lebih dari dua dari lima orang menyatakan tertarik untuk memilikinya atau sudah menggunakan perangkat tersebut.

Namun, kebiasaan masyarakat Amerika mulai berubah seiring meningkatnya minat terhadap metode membersihkan diri menggunakan air.

Survei Harris Poll yang dilakukan untuk produsen perlengkapan kamar mandi TOTO menemukan bahwa 60 persen responden Amerika merasa belum sepenuhnya bersih setelah hanya menggunakan tisu toilet.

Sekitar 31 persen responden juga mengaku menggunakan tisu basah karena merasa tisu toilet saja tidak cukup.

Popularitas bidet turut meroket dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan survei renovasi kamar mandi di Amerika Serikat pada 2025, sebanyak 21 persen responden yang memperbarui toilet mereka memilih dudukan dengan fitur bidet.

Sementara itu, laporan industri pada 2024 menunjukkan lebih dari dua dari lima pemilik rumah yang melakukan renovasi memilih toilet dengan fitur khusus, termasuk dudukan toilet yang dilengkapi bidet.

Menurut Axios, pasar bidet di Amerika Serikat diproyeksikan tumbuh 30 persen sepanjang 2024 hingga 2029.

Berbeda dengan bidet berbentuk perangkat porselen terpisah yang umum ditemukan di sejumlah kamar mandi Eropa, bidet di Gracie Mansion berupa alat penyemprot air yang dipasang pada toilet yang sudah ada.

Selain alasan kebersihan, penggunaan bidet juga dapat membantu mengurangi ketergantungan pada tisu basah yang berpotensi menimbulkan masalah pada saluran pembuangan.

Pemerintah Kota New York sebelumnya telah mengingatkan masyarakat agar tidak membuang tisu basah ke dalam toilet, termasuk produk yang dipasarkan dengan label flushable atau dapat dibuang melalui kloset.

Berbeda dengan tisu toilet yang dirancang mudah terurai dalam air, tisu basah cenderung lebih kuat dan sulit hancur. Penumpukannya dapat menyumbat pipa, merusak peralatan pengolahan limbah, serta meningkatkan biaya pemeliharaan saluran pembuangan.

Persoalan tersebut juga terjadi di berbagai kota Amerika Serikat.

National Association of Clean Water Agencies (NACWA), asosiasi pengelola air limbah di Amerika Serikat, pernah memperkirakan bahwa tisu basah menimbulkan tambahan biaya operasional sekitar US$441 juta per tahun bagi perusahaan pengelola air limbah di seluruh negeri.

Brezler, yang juga menggunakan bidet di rumahnya, menyambut baik pemasangan perangkat tersebut di Gracie Mansion.

Sebagai pejabat yang pekerjaannya kerap berkaitan dengan infrastruktur publik, khususnya sistem saluran pembuangan dan penanganan banjir, ia menilai warga New York sebaiknya mulai beralih menggunakan bidet.

Menurutnya, penggunaan air untuk membersihkan diri dapat mengurangi ketergantungan pada tisu basah yang menjadi salah satu penyebab kerusakan saluran pembuangan.

“Tisu basah adalah hal terburuk bagi saluran pembuangan dan sistem perpipaan kita. Tisu tersebut menyebabkan kerusakan senilai jutaan dolar,” katanya.

“Padahal, kita cukup menyemprotkan sedikit air ke bokong,” imbuhnya.



Source link