loading…

TikTok juga terus mendorong literasi AI melalui kerja sama dengan mitra. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA – Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam industri kreatif Indonesia terus meningkat, mulai dari pencarian ide, produksi konten, hingga pembelajaran mandiri. Namun, pertumbuhan pesat teknologi tersebut menuntut kreator dan pengguna menerapkan prinsip transparansi serta tanggung jawab agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Pengamat Teknologi Informasi dan Ahli Keamanan Siber Alfons Tanujaya menilai, perkembangan AI generatif berjalan jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dan mengenalinya. Ia mengingatkan bahwa kemudahan membuat gambar atau video yang nyaris sulit dibedakan dari karya asli menjadikan tanggung jawab pengguna dan transparansi platform sebagai lini pertahanan utama.

“Kecepatan perkembangan AI generatif jauh melampaui kecepatan masyarakat beradaptasi mengenalinya. Di titik inilah tanggung jawab pengguna dan transparansi dari platform menjadi lini pertahanan utama, bukan lagi pilihan tambahan,” ujar Alfons dikutip pada Selasa (27/10/2026).

Baca Juga: Dari Hobi Fashion hingga Jadi Konten Kreator, Ini Perjalanan Frantie di Dunia Digital

Menurut Alfons, AI sebaiknya diposisikan sebagai asisten, bukan pengganti manusia. Ia menekankan bahwa nilai tambah sebuah karya tetap lahir dari perspektif, empati, dan keahlian analitis manusia dalam mengolah data mentah hasil AI menjadi informasi yang bermakna bagi publik.

Kreator TikTok Theresa (@theresalearns) juga menekankan pentingnya keterbukaan ketika menggunakan AI dalam proses berkarya. Ia mendorong kreator mengaktifkan Label AI sebelum mengunggah konten agar audiens memahami bahwa materi tersebut dibuat atau diedit dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan.



–