SINGAPURA: Gelombang protes yang dipimpin anak muda melanda Eropa dalam beberapa pekan terakhir, dengan Jerman menjadi titik terbaru pada Sabtu (31/10). Para demonstran menuntut perbaikan layanan publik, biaya hidup yang lebih terjangkau, dan investasi lebih besar bagi masa depan mereka.

Sejumlah aksi berujung ricuh, toko-toko dijarah, bangunan dirusak, serta demonstran dan polisi bentrok.

CNA mengulas penyebab gelombang protes di Eropa, keterkaitan antargerakan, serta risiko yang ditimbulkannya.

Di mana protes terjadi dan apa penyebabnya?

Di Jerman, gerakan anak muda bernama GenZ regelt, atau “Gen Z bisa mengatasinya”, menggelar demonstrasi di lebih dari 30 kota pada Sabtu lalu.

Melalui situs webnya, kelompok itu menyatakan bahwa mereka menuntut peningkatan investasi di bidang pendidikan, jaminan sosial, kesehatan, perlindungan iklim, dan biaya hidup yang lebih terjangkau, sekaligus menentang pemberlakuan kembali wajib militer.

Menurut GenZ regelt, sekitar 120.000 orang mengikuti demonstrasi tersebut.

Salah seorang demonstran, Janelle Schulz, mengatakan, pemerintah perlu mengalokasikan lebih banyak dana untuk pendidikan.

“Di sekolah saya, langit-langitnya ambruk karena kerusakan akibat air, tetapi tidak ada tindakan apa pun. Kami kekurangan guru, toiletnya rusak,” kata siswi SMA asal Berlin itu kepada AP.

Di Prancis, demonstrasi bermula pada pertengahan September akibat memburuknya kondisi sekolah, kekurangan guru, dan ketidakpuasan terhadap sistem penerimaan mahasiswa.

Menurut lembaga kajian Amerika Serikat Council on Foreign Relations (CFR), gerakan ini berawal dari mogok kerja guru di sebuah SMA di Creteil, dekat Paris, sebelum meluas ke seluruh negeri, menjangkau lebih dari 1.000 SMA dan melibatkan ratusan ribu demonstran.

Tuntutan demonstrasi kemudian meluas ke persoalan kenaikan biaya hidup, layanan publik, dan kepemimpinan Presiden Emmanuel Macron, dengan dukungan serikat pekerja serta gerakan Rompi Kuning.

Pada 17 Oktober, demonstrasi yang melibatkan sekitar 550.000 orang berubah menjadi salah satu kerusuhan terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir, menurut laporan AP.

Demonstrasi berlanjut pada Sabtu, diikuti sekitar 320.000 orang di seluruh negeri, dengan lebih dari 560 orang dilaporkan ditangkap hingga malam hari.

Salah seorang demonstran, mahasiswa Corentin Cabreux, 21, mengatakan kepada AP bahwa asrama mahasiswa milik pemerintah yang ditempatinya memiliki “noda lembap di sepanjang bagian bawah dinding, banyak bagian mengelupas, kecoak di mana-mana, juga tikus”.

Peneliti CFR Rafaela Uzan menyoroti kesenjangan antargenerasi. Banyak anak muda merasa pemerintah Prancis lebih mengutamakan generasi tua, meski pengangguran kaum muda tinggi dan tekanan terhadap sektor pendidikan terus meningkat.

Di Spanyol, keterjangkauan harga hunian menjadi tuntutan utama.

Penggusuran seorang perempuan berusia 87 tahun dari rumah yang telah lama ditempatinya di Madrid pada September, menyusul kenaikan sewa yang tajam, memicu kemarahan di seluruh negeri.

Menurut The Guardian, demonstran menuntut pembekuan harga sewa, penghentian penggusuran terhadap kelompok rentan, serta pengetatan aturan penyewaan jangka pendek dan kamar.



Source link