loading…

Peringatan Hari Santri Nasional jadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran pesantren dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah ancaman intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme di era digital. Foto/Dok.SindoNews

CIREBON – Peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran pesantren dalam menjaga keutuhan bangsa. Di tengah maraknya ancaman intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme berbasis kekerasan di era digital, lingkungan pendidikan Islam seperti pesantren diharapkan mampu menjadi benteng utama pertahanan ideologi bangsa.

Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Didin Nurul Rosidin menegaskan bahwa nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan yang diajarkan di pesantren memiliki potensi besar untuk membentuk imunitas generasi muda terhadap paham radikal.

Baca juga: Peringati Hari Santri 2026, Prabowo: Santri Bagian Penting dalam Sejarah Kemerdekaan

“Kekuatan utama santri itu terletak pada pertemuan antara kedalaman ilmu, pendidikan akhlak, pengalaman hidup bersama, dan kesadaran kebangsaan. Maka otomatis, ketika keempatnya berjalan dengan baik, pesantren sebenarnya mempunyai modal penting untuk membentuk ketahanan terhadap intoleransi, ekstremisme, dan juga kekerasan,” kata Didin di Cirebon, dikutip Sabtu (24/10/2026).

Kendati demikian, ketahanan tersebut bukan sesuatu yang instan. Karakter moderat harus terus dipupuk melalui proses pendidikan yang konsisten dan berkesinambungan.

“Namun, kita juga harus menyadari bahwa status sebagai santri itu tidak otomatis membuat mereka menjadi kebal terhadap propaganda. Inilah yang kemudian harus kita jadikan refleksi bahwa ketahanan itu merupakan hasil pendidikan yang harus terus dirawat,” ujarnya.



–