Singapura tengah menghadapi kabut asap terparah akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sejak 2015. Negara itu telah mengirimkan surat pemberitahuan kepada 10 perusahaan yang berbasis di Singapura dan 10 perusahaan Indonesia berdasarkan Undang-Undang Polusi Kabut Asap Lintas Batas.

“Kita tidak bisa mengatasi masalah ini hanya dengan upaya sendiri. Kita membutuhkan kerja sama dari negara lain,” kata Wong.

“Namun, bukan berarti kita tinggal diam. Kami melakukan segala yang bisa dilakukan untuk melindungi masyarakat Singapura, memperkuat langkah penanganan sendiri, dan bekerja sama dengan mitra untuk mengatasi masalah ini langsung dari sumbernya.”

“DIBANGUN BERSAMA RAKYAT SINGAPURA”

Menyinggung soal pemerintahan, Wong mengatakan Singapura yang diinginkan tidak bisa hanya diwujudkan oleh pemerintah untuk rakyatnya, tetapi harus “dibangun bersama rakyat Singapura”.

“Inilah kemitraan yang ingin kami wujudkan: pemerintahan PAP yang mendengar, bertindak, dan memenuhi janji. Rakyat yang mau turun tangan dan berkontribusi, serta kehidupan sosial di mana semua orang saling peduli,” kata Wong.

Meski masyarakat Singapura telah memberi PAP mandat kuat untuk kembali memerintah selama satu periode, Wong menegaskan bahwa mandat tersebut bukan sesuatu yang otomatis menjadi hak PAP.

“Mandat ini adalah tanggung jawab untuk memenuhi janji, mengatasi persoalan sulit yang dihadapi negara kita, dan mempersiapkan Singapura menghadapi masa depan. Karena itu, kita tidak boleh sekali pun menganggap kepercayaan masyarakat Singapura sebagai sesuatu yang pasti. Bagaimanapun, tidak ada partai politik yang berhak atas kepercayaan itu selamanya,” kata Wong.

“Setiap generasi pemimpin dan kader PAP harus kembali meraih kepercayaan tersebut. Kami tahu apa yang diharapkan dari kami. Kami harus mendengar dan menepati janji. Kami harus menjaga standar yang tinggi dan selalu mengutamakan Singapura serta rakyatnya.”

Wong mengatakan bahwa meski sejumlah sektor ekonomi Singapura berkinerja baik, sektor lainnya menghadapi tekanan.

Sebagian pekerja menikmati peluang baru, tetapi yang lain kesulitan mengikuti perubahan. Pekerja bergaji rendah khawatir tidak mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup, sementara warga Singapura berusia 40-an dan 50-an yang kehilangan pekerjaan cemas sulit mendapat pekerjaan lagi.

“Kami memahami kekhawatiran ini dan akan menanggapinya. Tugas kami bukan sekadar menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi memastikan pertumbuhan itu meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat Singapura,” katanya.

Pemerintah juga meningkatkan upaya meringankan beban orang tua dan memberi keluarga rasa aman yang lebih besar, seperti terlihat dari berbagai kebijakan yang diumumkan dalam Rapat Umum Hari Kemerdekaan tahun ini, tambah Wong.

Wong mengakui pemerintah memiliki “agenda yang padat”, termasuk terus mengatasi tekanan biaya hidup dan membantu menciptakan lapangan kerja yang lebih baik di Singapura.

Pada akhirnya, pemerintah akan menjalankan perannya, tetapi semua pihak juga harus ikut berperan, kata Wong.

“Kami akan menciptakan peluang dan mendukung pekerja menghadapi perubahan, tetapi para pekerja juga harus siap belajar dan beradaptasi,” katanya.

“Kami akan mengurangi peran ujian dalam pendidikan dan memperluas pilihan jalur pendidikan, tetapi orang tua harus memberi anak-anak ruang untuk berkembang dengan ritme masing-masing.

“Kami akan memperkuat dukungan bagi keluarga dan lansia, tetapi kita semua juga harus saling peduli.”



Source link