PEKANBARU: Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin pekat menyelimuti Pekanbaru, Riau, hingga kualitas udara mencapai kategori berbahaya. 

Pemerintah Kota Pekanbaru memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa PAUD hingga SMP sampai Sabtu (10/10), sementara ribuan warga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan.

Konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Pekanbaru tercatat mencapai 202,1 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Kamis (8/10) pukul 08.00 WIB, dengan kualitas udara berada dalam kategori sangat tidak sehat.

Sehari sebelumnya, Rabu (7/10), konsentrasi PM2.5 bahkan sempat mencapai 251,4 µg/m³ atau masuk kategori berbahaya.

Kondisi tersebut turut mengganggu jarak pandang yang merosot hingga 800 meter, sebagaimana dilaporkan Riau Pos.

Pantauan di lapangan menunjukkan deretan gedung tinggi di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Soekarno-Hatta nyaris tidak terlihat akibat asap putih tebal yang disertai aroma menyengat bekas pembakaran.

PM2.5 merupakan partikel halus berukuran sangat kecil yang dapat terhirup hingga masuk ke saluran pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan dan jantung.

PERPANJANG PEMBELAJARAN JARAK JAUH

Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar mengatakan kebijakan PJJ diperpanjang bagi peserta didik mulai jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga sekolah menengah pertama (SMP).

“PJJ diperpanjang sampai Sabtu (10/10/2026) karena kondisi kabut asap yang masih memburuk,” kata Markarius, dikutip Kompas.com.

Keputusan tersebut diambil setelah Pemkot mempertimbangkan informasi dan parameter kualitas udara dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).

“Kami tentu menerima masukan dan informasi, pertama dari BMKG, kemudian DLHK. Kondisi udara di Pekanbaru hari ini dalam kondisi sangat tidak sehat, dan ada tiga parameter, tiga-tiganya menunjukkan kondisi sangat tidak sehat. Tadi siang itu sampai ke posisi berbahaya,” sebut Markarius.

Selain mengganggu kegiatan pendidikan, kabut asap juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Lebih dari 10.000 orang di Pekanbaru dilaporkan mengalami gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, iritasi, dan pneumonia.

Pada 7 Oktober saja, tercatat 374 pasien mengalami gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan paparan kabut asap dalam satu hari.



Source link