
loading…
Pemimpin dituntut untuk menjaga keadilan, menjauhi kesewenang-wenangan (kezaliman), memilih orang-orang yang amanah di sekelilingnya, serta menempatkan kepentingan masyarakat di atas ambisi pribadi. Foto ilustrasi/ist
Sebaliknya, kekuasaan yang berada di tangan pemimpin zalim dapat menjadi sumber kerusakan. Ambisi mempertahankan jabatan membuat seseorang tidak segan melakukan tindakan sewenang-wenang, menindas pihak yang berbeda pandangan, hingga mengabaikan hak-hak masyarakat.
Dalam pandangan Islam, kepemimpinan bukan sekadar kedudukan, melainkan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Karena itu, seorang pemimpin dituntut berlaku adil, menjaga hak rakyat, serta menggunakan kekuasaan untuk kemaslahatan.
Lantas, apa yang dapat menyebabkan seorang pemimpin menjadi rusak dan zalim?
8 Penyebab Rusaknya Pemimpin
Sejumlah faktor dapat menyeret seorang pemimpin kepada penyalahgunaan kekuasaan. Di antaranya:
1. Lemah dalam mengamalkan prinsip agama
Ketika nilai agama tidak lagi menjadi pedoman, kekuasaan mudah digunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompok.
2. Mengikuti hawa nafsu dan kesenangan dunia
Kecintaan berlebihan terhadap harta, jabatan, popularitas, dan kemewahan dapat membuat pemimpin melupakan amanah yang dipikulnya.
Baca juga: 3 Kisah Sahabat Nabi SAW tentang Menjaga Lisan, Teladan agar Tak Sembarangan Bicara
3. Kolusi dan nepotisme yang berlebihan
Kekuasaan yang hanya berputar di antara keluarga atau kelompok tertentu berpotensi melahirkan ketidakadilan dan merampas hak orang yang lebih layak.
4. Memilih teman dan penasihat yang buruk
Pemimpin membutuhkan orang-orang yang mampu memberikan nasihat secara jujur. Lingkaran kekuasaan yang hanya membenarkan setiap keputusan justru dapat menjerumuskan pemimpin.
5. Menyerahkan jabatan kepada orang yang tidak memiliki integritas
Jabatan merupakan amanah. Jika diberikan kepada orang yang tidak memiliki kemampuan, keikhlasan, dan tanggung jawab, kerusakan dapat meluas kepada masyarakat.
6. Bersikap diktator dalam menjalankan kekuasaan
Pemimpin yang menutup ruang kritik dan memaksakan kehendak berisiko menggunakan kekuasaan secara sewenang-wenang.
7. Mudah terpengaruh tekanan dan kepentingan eksternal
Seorang pemimpin seharusnya memiliki keteguhan dalam mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat dan tidak mengorbankan amanah demi kepentingan tertentu.
8. Meninggalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bernegara
Prinsip keadilan, amanah, musyawarah, dan perlindungan terhadap hak masyarakat merupakan nilai penting yang harus dijaga dalam kepemimpinan.
Nasihat Rasulullah kepada Rakyat Menghadapi Pemimpin Zalim
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bersikap gegabah ketika menghadapi pemimpin yang zalim. Dalam kondisi tertentu, kesabaran dan sikap menahan diri menjadi bagian dari upaya menjaga ketertiban dan mencegah kerusakan yang lebih besar.
Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barang siapa melihat sesuatu yang tidak disukainya dari pemimpinnya, hendaklah ia bersabar. Sebab, siapa yang memisahkan diri dari jamaah walau sejengkal, kemudian ia meninggal, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliah.” (HR Al-Bukhari)
Hadis tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kesabaran dan menghindari tindakan yang dapat menimbulkan kekacauan. Namun, kesabaran bukan berarti membenarkan kezaliman atau merelakan kemungkaran.
Ibnu Abbas: Pemimpin Adalah Ujian
Sahabat Abdullah bin Abbas juga memberikan gambaran mengenai posisi seorang pemimpin sebagai ujian bagi masyarakat.

Leave a Reply