loading…

Daya tahan ekonomi global dalam menghadapi guncangan bertubi-tubi dilaporkan mulai mencapai titik nadir. Foto/Dok

JAKARTA – Daya tahan ekonomi global dalam menghadapi guncangan bertubi-tubi dilaporkan mulai mencapai titik nadir. Dalam laporan World Economic Outlook terbaru yang dirilis awal pekan kemarin, Dana Moneter Internasional (IMF) melontarkan peringatan keras bahwa kemampuan dunia untuk menahan krisis baru kini berada di ambang batas (limits of resilience).

Meski pertumbuhan ekonomi sejauh ini secara mengejutkan masih bertahan di tengah Perang Timur Tengah dan lonjakan harga minyak. Namun para pembuat kebijakan khawatir bahwa menyusutnya cadangan energi, menggunungnya utang negara, serta ketergantungan ekstrem pada “booster” teknologi Artificial Intelligence (AI) membuat dunia makin rentan terhadap kebangkrutan sistemik.

Kepala Ekonom baru IMF, Silvana Tenreyro menegaskan, bahwa tanpa langkah konkret memperkuat kapasitas pasokan dan mengisi kembali cadangan kebijakan (policy buffers), ekonomi dunia akan segera menguji batas ketahanannya.

Tenreyro secara khusus menyoroti bahaya terselubung di balik ledakan investasi teknologi AI yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi saat krisis energi melanda. Baca Juga: IMF: Tanpa AI, Perdagangan Global Hanya Tumbuh Loyo 4,6 Persen

“Investasi terkait teknologi, meski menjadi penolong penting melawan guncangan energi, kini menumpuk risiko-membuat ekspansi global sangat bergantung hanya pada segelintir perusahaan, sektor, dan negara,” tulis Silvana Tenreyro dalam publikasi resminya.

Bahaya Gelembung AI

Analisis mendalam IMF membeberkan bahwa apabila euforia investasi AI gagal menghasilkan peningkatan produktivitas yang dijanjikan, pasar keuangan bisa mengalami koreksi tajam. Skenario pembalikan (sharp reversal) ini diproyeksikan akan memangkas PDB Global sebesar 1,1% di bawah estimasi dasar pada tahun 2028, dengan hantaman terparah menerjang PDB Amerika Serikat yang anjlok hingga 1,8%.



–