SINGAPURA: Ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Serangkaian uji coba senjata dan sengketa perbatasan terbaru memicu kekhawatiran akan bentrokan militer tak disengaja yang bisa meluas menjadi konflik besar.
Hubungan kedua Korea kini memasuki “fase yang sangat berbeda”, kata sejumlah pakar kepada CNA.
“Kita tidak sedang menghadapi siklus provokasi seperti biasanya, tetapi situasinya juga tidak jauh lebih berbahaya dibanding beberapa waktu terakhir,” kata Christopher Green, konsultan senior urusan Semenanjung Korea di International Crisis Group (ICG).
Lami Kim, pakar teknologi canggih, keamanan nasional, dan pertahanan Korea di International Institute for Strategic Studies (IISS), meyakini, “kedua negara tidak menginginkan perang karena biayanya akan sangat besar bagi keduanya”.
Namun, ketegangan yang meningkat juga “berisiko membuat situasi lepas kendali”, kata Kim.
“Pyongyang tampaknya bertekad menolak dialog dengan Seoul. Tanpa jalur komunikasi yang andal, insiden kecil atau salah perhitungan berisiko meningkat menjadi perang.”
APA PEMICU KETEGANGAN TERBARU?
Korea Utara meningkatkan aktivitas militernya dalam beberapa pekan terakhir. Pada 29 Oktober, negara itu menembakkan belasan rudal balistik jarak pendek di lepas pantai timurnya, lalu mengumumkan uji coba hulu ledak bom tandan untuk rudal balistik taktis.
Pada Senin (2/11), Pyongyang menuduh Washington dan Seoul menggelar simulasi perang nuklir dalam latihan militer gabungan baru-baru ini. Korut juga berjanji mempercepat penguatan kemampuan penangkal nuklirnya.
Perkembangan ini terjadi setelah ketegangan di sepanjang perbatasan meningkat selama berminggu-minggu.
Ledakan ranjau darat pada 21 September menyebabkan tiga perwira Korea Selatan luka parah, termasuk satu orang yang kehilangan kakinya.
Pyongyang kemudian mengancam kembali menyiarkan propaganda melalui pengeras suara dan menempatkan sejumlah artileri di dekat perbatasan. Sementara itu, Seoul mengusulkan perundingan militer pada 23 Oktober untuk meredakan ketegangan.
Secara terpisah, seorang sersan Angkatan Darat Korea Selatan meninggal setelah mengalami luka di unit garis depan dekat perbatasan Korut pada Senin, menurut Kementerian Pertahanan Nasional.

Leave a Reply