DESAKAN AGAR ATURAN DIPERJELAS

Namun, mekanisme pengetatan terhadap kreator konten asing dipertanyakan YouTuber Luke Martin, dari Chopstick Travel, kanal yang menawarkan video perjalanan kuliner dan budaya dari berbagai negara di dunia. Di Indonesia, ia pernah membuat video di Bali, Yogyakarta, Solo, dan Bandung.

Menurutnya, perlu ada pembedaan antara kreator independen seperti dirinya dan kreator yang bekerja sebagai bagian dari produksi profesional berskala lebih besar.

Salah satu video Martin di Bali berjudul Indonesian Street Food-Crazy Bali Night Market telah ditonton 627.000 kali, sementara video lainnya yang merangkum 33 jajanan kaki lima Indonesia paling terkenal telah meraih 2,3 juta penayangan.

“Kami berusaha mencari bisnis seperti restoran yang telah dikelola selama beberapa generasi dan benar-benar merepresentasikan budaya Indonesia atau Bali, kemudian menceritakan kisah mereka melalui video kami,” ungkap Martin kepada CNA.

“Itu sangat berbeda dengan sekadar menampilkan hotel besar, resor mewah bintang lima ternama, beach club, atau tempat semacam itu,” kata Martin, yang kanal YouTube-nya memiliki sekitar 1,65 juta subscribers.

Ia mempertanyakan bagaimana pengawasan yang lebih ketat terhadap kreator konten asing di Bali diterapkan di lapangan. “Menurut saya, aturan baru ini belum jelas mengenai apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak,” kata warga Kanada berusia 32 tahun tersebut kepada CNA.

Martin, yang tinggal di negara asalnya tetapi kerap bepergian untuk membuat konten bagi kanal YouTube-nya dan sudah mengunjungi berbagai wilayah di Indonesia, memahami bahwa skema barter, akomodasi gratis, maupun menerima produk atau makanan mahal sebagai imbalan atas konten promosi kini tidak lagi diperbolehkan bagi WNA yang tidak memiliki visa yang sesuai.



Source link