MASIH ADA UNSUR MANUSIA

Label “musik AI” sendiri ternyata tidak sesederhana menyuruh chatbot bikin lagu lalu mengunggah hasilnya ke Spotify. Joseon HipHop menulis sendiri lirik Forest of the Heart, sementara melodi dan vokalnya dibuat menggunakan Suno.

Dalam kasus meomuru, kreatornya juga mengklaim manusia masih terlibat dalam penulisan lagu, konsep, aransemen dan produksi musik.

Kreator meomuru bahkan memosisikan AI bukan sebagai pengganti manusia, melainkan instrumen modern dan partner kreatif. Klaim tersebut sekaligus memperlihatkan wilayah abu-abu baru dalam industri musik: kalau manusia menciptakan konsep dan mengarahkan prosesnya, tetapi mesin menghasilkan sebagian komposisi atau suara yang akhirnya kita dengar, apakah hasil akhirnya masih bisa disebut karya manusia?

Pertanyaan itu semakin pelik karena teknologi sudah bergerak lebih cepat daripada aturan. Di Korea Selatan, pemerintah sejak 2023 berpandangan bahwa keluaran AI tanpa kontribusi kreatif manusia tidak dapat memperoleh perlindungan hak cipta.

Namun, berdasarkan laporan The Korea Times, belum ada standar konkret mengenai seberapa besar campur tangan manusia yang dibutuhkan agar sebuah lagu bisa memenuhi syarat mendapatkan royalti melalui Korea Music Copyright Association (KOMCA).

Joseon HipHop merasakan langsung konsekuensinya. Meski lagunya berhasil masuk Melon, kreator tersebut tidak menerima royalti hak cipta dari karya-karya AI-nya. Pendapatan yang diterima berasal dari neighboring rights atau hak terkait sebagai produser ketika lagu digunakan atau diputar.

Sebenarnya, KOMCA sempat mencoba membuat aturan baru. Pada 3 Agustus, organisasi itu mengizinkan musik berbantuan AI didaftarkan untuk pengelolaan hak selama manusia berkontribusi pada lirik, komposisi, aransemen atau aspek lain dari karya tersebut.

Lagu yang hanya dibuat dengan memasukkan prompt tidak termasuk. Namun, aturan itu hanya bertahan 22 hari. Setelah menuai keberatan dan pemerintah meminta diskusi publik yang lebih luas, KOMCA mencabutnya pada 25 Agustus.

Masalahnya bukan cuma menentukan siapa penciptanya. Industri juga harus bisa mengetahui apakah AI digunakan sejak awal. Saat ini, platform streaming musik Korea belum memiliki ketentuan yang mewajibkan keterlibatan AI dicantumkan pada sebuah karya.

Artinya, pendengar bisa saja menikmati lagu tanpa tahu bahwa suara atau musik tersebut dibuat dengan bantuan AI sampai kreatornya sendiri mengungkapkannya.

LAGU AI MAKIN SULIT DIKENALI

KOMCA bersama lima kelompok industri musik lainnya kini berada dalam tahap akhir memilih penyedia teknologi pendeteksi musik AI. Persoalannya, alat semacam ini dilaporkan masih kesulitan mendeteksi lagu ketika AI hanya mengerjakan sebagian dari proses pembuatannya.

Lee Jong-pil, CEO startup Korea Neutune yang mengembangkan teknologi atribusi dan pelacakan hak untuk musik AI, menilai, derasnya lagu buatan AI sudah “memperdalam distorsi” dalam sistem distribusi musik. Menurutnya, industri tidak cukup hanya bereaksi setiap kali muncul masalah baru.

“Daripada merespons persoalan jangka pendek satu per satu, kuncinya adalah merancang sistem secara proaktif dengan mempertimbangkan seluruh ekosistem musik AI yang akan datang,” katanya kepada The Korea Times, Senin (21/9).

Perdebatan serupa sebenarnya sedang berlangsung di berbagai negara. Di Amerika Serikat, Copyright Office menyimpulkan pada Januari 2025 bahwa prompt saja tidak cukup untuk mendapatkan perlindungan hak cipta.

Organisasi pengelola hak seperti BMI dan ASCAP di AS serta SOCAN di Kanada menerima karya berbantuan AI ketika kontribusi manusia—misalnya lirik atau melodi—bisa diidentifikasi, tetapi tidak untuk karya yang sepenuhnya dihasilkan melalui prompt. Pendekatan serupa diterapkan GEMA di Jerman dan BumaStemra di Belanda.

Perkara AI dan musik bahkan sudah melebar ke soal materi yang digunakan untuk melatih model. Pengadilan Munich pada 31 Juli memutuskan dalam putusan tingkat pertama bahwa Suno melanggar hak cipta dengan menggunakan karya yang diwakili GEMA untuk melatih model dan mereproduksinya dalam hasil AI. Putusan tersebut belum final.



Source link