Pada saat yang bersamaan, persentase mahasiswa dari Eropa dan Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan.

Dari total mahasiswa internasional yang diterima pada 2016, mahasiswa Eropa menyumbang 16,1 persen dibandingkan dengan 15,6 persen pada 2026.

Menurut data resmi, pangsa Amerika juga turut menurun. Mahasiswa dari kawasan tersebut dan Oseania hanya mencakup 7,1 persen dari total keseluruhan periode 2024-2025.

Laporan Maret 2026 oleh organisasi nirlaba US-China Education Trust (USCET) mengestimasi kurang dari 2.000 mahasiswa Amerika sekarang berkuliah di China setiap tahunnya, turun drastis sekitar 11.000 pada 2019.

Laporan tersebut menyebutkan, penurunan tersebut disebabkan oleh pendanaan federal AS pada program-program yang menyangkut China, kekhawatiran di antara mahasiswa perihal prospek karier di pemerintahan, dan meningkatnya tekanan yang dihadapi universitas AS untuk membatasi hubungan dengan China.

Perlu diketahui sebagian besar mahasiswa dan peneliti Amerika terpaksa mengurungkan niat untuk kuliah ke China karena mereka meyakini bahwa cara ini dapat merusak peluang karier mereka di pemerintahan di masa mendatang.

“Kita sedang menyaksikan perubahan yang proporsional,” jelas Wang Xiaokai, konsultan pendidikan senior, menyoroti perubahan nyata yang sedang berlangsung dan mayoritas mahasiswa di seluruh Asia dan Afrika memilih universitas China daripada perguruan tinggi di Barat.

“China kian diminati pelajar Asia Tenggara dan Afrika, termasuk negara-negara yang terlibat dalam proyek Prakarsa Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI),” kata Wang, menyinggung perihal proyek infrastruktur ambisius Beijing yang bertujuan untuk mendorong perdagangan global dan menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika melalui rute darat dan perairan.

“Jadi dampaknya, persentase pelajar dari Eropa dan Amerika Serikat berkurang,” imbuhnya.

Menurut Wang, faktor geopolitik juga turut memengaruhi. Pelajar Eropa dan AS kini lebih hati-hati untuk berkuliah di China, menyusul kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump mencakup penangguhan proses visa, larangan perjalanan ke beberapa negara Asia dan pencabutan lebih dari 6.000 visa pelajar atas tuduhan pelanggaran pada 2025.

Benjamin Mulvey, dosen di bidang sistem dan kebijakan pendidikan yang berkeadilan di Universitas Glasgow, menyoroti “tingginya tekanan geopolitik antara negara-negara Barat dan China” menyebabkan kerja sama akademik sulit terwujudkan.

Hal ini juga berdampak pada “program pertukaran pelajar dan perkuliahan di luar negeri,” kata Mulvey kepada CNA.



Source link