loading…

Migran Myanmar dipulangkan dari Malaysia ke negara yang dilanda konflik. Foto/X/@ajplus

YANGON – Hampir 1.500 migran Myanmar dari Malaysia tiba di tanah air mereka yang sedang dilanda konflik pada hari Minggu. Itu diungkapkan seorang pejabat Angkatan Laut Myanmar; mereka dipulangkan melalui skema repatriasi yang tidak transparan.

Tiga kapal yang membawa migran Myanmar telah bersandar di pangkalan Angkatan Laut Myanmar di Thanlyin tepat sebelum pukul 07.30 pagi, kata pejabat angkatan laut tersebut, yang identitasnya dirahasiakan oleh AFP karena ia tidak memiliki wewenang untuk berbicara kepada media.

Ratusan keluarga berkumpul sejak dini hari untuk menjemput kerabat mereka di luar pangkalan, tempat mobil, taksi, dan bus berjejer bersiap untuk membawa mereka pergi, demikian pantauan jurnalis AFP.

Kyaw Myint, 55 tahun, mengatakan kepada AFP bahwa ia berada di sana untuk menjemput tiga cucunya yang telah menjalani masa penahanan di Malaysia selama satu setengah tahun, dan yang belum pernah ia temui selama enam tahun.

“Sejak mereka masuk penjara, kami kehilangan kontak dengan mereka,” ujarnya.

Terdapat pula kekhawatiran bahwa anggota etnis Rohingya yang tertindas termasuk dalam kelompok yang dipulangkan tersebut—menyusul pengumuman repatriasi oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di tengah sentimen anti-Rohingya—namun hal ini belum terkonfirmasi.

Tiga kapal Angkatan Laut Myanmar bertolak dari Malaysia pada hari Selasa dengan membawa 1.476 migran, menurut pemerintah Myanmar; ini merupakan gelombang pertama dari total 5.000 orang yang menurut Anwar telah disepakati untuk diterima kembali oleh Myanmar.

Namun, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa kondisi di Myanmar—yang dilanda perang saudara sejak kudeta militer tahun 2021—membuat kepulangan yang aman tidak dapat dijamin sebagaimana disyaratkan oleh hukum internasional.

“Kami tidak tahu bagaimana nasibnya nanti saat kembali ke Myanmar,” ujar saudara perempuan berusia 25 tahun dari salah satu migran, yang sebelumnya memberi tahu keluarganya bahwa ia diperkirakan akan diberangkatkan dengan kapal-kapal tersebut.

“Kekhawatiran utama kami adalah keselamatannya saat tiba nanti tidak terjamin,” ujarnya kepada AFP dari Malaysia, sembari meminta agar identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan setelah kehilangan kontak dengan saudaranya sebelum kapal-kapal itu berlayar.

Menyusul kudeta militer tahun 2021, Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah mengecualikan Myanmar dari pertemuan tingkat tinggi karena negara tersebut belum menunjukkan kemajuan berarti terkait Konsensus Lima Poin blok tersebut untuk mengakhiri permusuhan.



–