loading…

MEKKAH – Serangan mematikan Houthi terhadap bandara-bandara Arab Saudi telah memicu kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas, seiring langkah Riyadh meningkatkan operasi militer terhadap kelompok militan yang didukung Iran, dukungan sekutu regional bagi kerajaan tersebut, serta pertimbangan Presiden AS Donald Trump untuk melakukan intervensi langsung.

Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menewaskan sedikitnya 14 orang selama akhir pekan dan melukai lebih dari 300 orang, menurut laporan Reuters dan AP.

Mengadopsi strategi Iran dalam konfrontasinya dengan Amerika Serikat, kelompok Houthi mengancam akan melakukan eskalasi yang berdampak berat; mereka menargetkan infrastruktur vital Saudi sembari berupaya menimbulkan dampak ekonomi yang melampaui wilayah kerajaan itu sendiri.

Mungkinkah Negara-negara Arab Bersatu Melawan Houthi?

1. Perlunya Pertahanan Kolektif

Anwar Gargash, Penasihat Diplomatik Presiden UEA, memperingatkan bahwa serangan terhadap Arab Saudi secara langsung mengancam keamanan UEA dan negara-negara Teluk lainnya, seraya menyerukan kerja sama pertahanan regional yang lebih kuat. “Sejak agresi terhadap negara-negara Teluk Arab dimulai, menjadi jelas bahwa kita semua menjadi sasaran dan keamanan kita tidak dapat dipisahkan,” tulisnya di X.

Gargash mengatakan bahwa kekurangan dalam kerja sama pertahanan gabungan Teluk telah mendorong serangan terhadap kawasan tersebut, seraya menegaskan bahwa keamanan kolektif adalah tanggung jawab bersama yang tidak memberi ruang bagi sikap lengah atau penundaan.

2. Saudi Hanya Mengandalkan Pasukan Pemerintah Yaman

Arab Saudi telah memberikan dukungan udara yang ekstensif kepada pasukan pemerintah Yaman yang memerangi Houthi, kelompok yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman utara.

Riyadh dapat mengintensifkan serangan terhadap peluncur rudal, fasilitas drone, dan gudang senjata sembari mendukung operasi untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.



–