Sama seperti sebelumnya saat menceritakan perjuangannya melawan penyakit, dr. Chng dengan nada tenang mengakui bahwa dia prihatin dan sering cemas dengan kondisi putri kecilnya.

“Ada waktu di mana aku merasa: ‘Oh, apakah karena perkembangannya tidak berjalan baik? Tapi aku sadar kalau itu bagian dari proses perkembangannya.”

Sebagian kekhawatirannya berasal dari kurangnya pengetahuan profesionalnya di bidang ilmu kesehatan anak, meskipun ia pernah menjalani magang di NUH.

“Aku masih ada kolega di bidang ilmu kesehatan anak, dan mereka selalu meyakinkanku: ‘Semuanya baik-baik saja. Jangan ambil pusing’,” dia tertawa.

Sekarang, sebagai dokter residen tahun ketiga di bidang patologi anatomi, keseharian dr. Chng dipenuhi dengan mengamati jaringan darah lewat mikroskop untuk membantu dokter lain dalam mendiagnosis secara akurat, dan ini penting agar dokter yang merawat pasien mampu memberikan perawatan yang terbaik untuk mereka.

Tugasnya saat ini mencakup analisis mutasi gen dalam kasus kanker yang akan menjadi panduan informatif dalam terapi personal atau dalam menentukan prognosis pasien.

Bagi dr. Chng, bekerja di bidang medis juga membuat kita dapat menyaksikan langsung “kemajuan besar” dari upaya menangani kanker, mengingat dirinya pernah menjadi pasien.

Dia menjelaskan tentang seluk-beluk patologi anatomi dengan antusiasme yang serupa saat dia bermain dengan putrinya, Clarisse, yang baru bangun dari tidur paginya.

Sambil menyaksikan momen kebersamaan antara ayah dan anak, aku bertanya pada ibu Dr Chng apakah momen ini pernah terbayangkan olehnya untuk putranya.

“Jujur, aku tidak berpikir sejauh itu,” ucapnya. “Bagiku, setiap hari dia sehat, itu sudah anugerah.”

Dulu, dia sangat mengharapkan putranya memiliki hidup dan karier yang aman daripada menceburkan diri ke dunia medis yang penuh dengan tuntutan.

“Aku sedih rasanya ketika melihatnya harus lembur dan bekerja selama akhir pekan, bahkan saat hari libur.”

Sekarang ia tidak lagi keberatan jika dr. Chng menjadi seorang dokter karena dia paham bahwa dia dapat membantu pasien melewati perjalanan fisik, mental, dan emosi saat melawan penyakit yang dulu pernah ia alami. Pada saat yang bersamaan, dia hanya berharap putranya menjaga kesehatannya.

Terkait hal ini, dr. Chng sadar bahwa dia punya “posisi yang unik”. Dia pribadi tidak tahu apakah ada dokter lain yang pernah selamat dari kanker saat kecil, kemudian menekuni profesi kedokteran.

Akan tetapi, dia berharap dengan membagikan pengalamannya dapat membawa kelegaan dan kejelasan bagi mereka yang sedang melawan kankernya – begitu juga dengan pengasuhnya.

“Tidak ada yang mau penyakit serius seperti ini,” kata dr. Chng.

“Jangan kucilkan mereka yang memiliki penyakit tersebut. Terima mereka. Setiap orang berusaha melakukan yang terbaik dan berkontribusi bagi masyarakat dengan cara terbaik yang kita bisa.”



Source link