[ad_1]

Ye Htet, 29, asal Negara Bagian Mon, mengatakan, itulah alasan ia meninggalkan Myanmar empat tahun lalu.

“Saya kenal orang-orang yang dipaksa menjadi tentara. Saya tahu kalau tetap tinggal, cepat atau lambat mereka akan mencari saya,” kata Ye Htet, yang kini bekerja di perkebunan karet di Thailand selatan.

Ia menempuh perjalanan berat selama tiga hari melewati hutan dan pegunungan untuk mencapai perbatasan Thailand. Saat akhirnya menyeberang ke Thailand, ia mengatakan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun merasa aman.

Ia mengira telah lepas dari bayang-bayang perang, tetapi ketakutan itu kembali ketika Bangkok mempererat hubungan dengan Naypyidaw.

“Saya rindu rumah. Saya rindu keluarga. Bagaimanapun, Thailand bukan negara saya,” katanya.

“Tapi untuk waktu yang belum bisa dipastikan, saya tidak bisa pulang. Untuk orang seusia saya, kalau kembali ke Myanmar, saya pasti akan menjadi tentara,” tambahnya.

“Saya tidak ingin melawan siapa pun. Saya tidak ingin membunuh siapa pun. Tapi kalau mereka menjadikan saya tentara, saya tidak punya pilihan. Saya rasa saya akan mati.”

Adapun bagi Rohingya, yang disebut sebagai minoritas paling teraniaya di dunia, pengungsi seperti Sadek berterima kasih karena Malaysia memberi mereka tempat berlindung dan berharap negara itu tidak memulangkan orang-orang yang mungkin menghadapi bahaya.

“Myanmar adalah negara saya, tetapi tidak aman bagi kami. Kami datang ke sini bukan untuk tinggal selamanya, melainkan mempersiapkan diri agar suatu hari bisa pulang. Sayangnya, saat ini kami belum bisa melakukannya,” katanya.

“Saya tidak tahu kesepakatan apa yang mereka buat, tetapi saya tidak percaya Malaysia akan memulangkan siapa pun yang nyawanya terancam ke Myanmar,” katanya.

“Rohingya harus dimukimkan kembali di negara ketiga agar bisa mendapat tempat tinggal permanen. Banyak yang sudah berada di sini sejak 1980-an, tetapi nasib mereka masih terkatung-katung,” katanya, seraya mempertanyakan apakah ada keseriusan untuk memukimkan kembali Rohingya.

Ratusan ribu Rohingya meninggalkan Myanmar pada 2017 setelah operasi militer.

Banyak yang menyeberangi perbatasan ke Bangladesh. Baru-baru ini mereka menggelar aksi menuntut kepulangan yang aman ke Negara Bagian Rakhine di Myanmar dan memprotes buruknya kondisi kamp pengungsi di Cox’s Bazar, tempat sebagian dari mereka tinggal selama sembilan tahun.

Pemerintah Bangladesh dilaporkan sedikitnya dua kali berusaha memulai pemulangan. Namun, tidak ada pengungsi yang bersedia kembali karena mengkhawatirkan keamanan di Myanmar, dan Dhaka mengatakan tidak akan memaksa siapa pun pulang.

Pada Agustus, pemerintah Myanmar mengatakan, lebih dari 300.000 orang yang tinggal di kamp-kamp di Bangladesh merupakan mantan penduduk Negara Bagian Rakhine dan akan diterima kembali setelah kondisi keamanan membaik, menurut laporan kantor berita.

[ad_2]

Source link