MASIH JADI PASAR PEMBELI
Sebelum kontroversi tersebut, Forest City sudah menghadapi pelemahan harga dan minimnya transaksi.
Berdasarkan layanan transaksi properti Datanah, median harga transaksi Forest City antara Juni 2025 dan Juni 2026 sebesar RM547 per kaki persegi (square foot/ sq ft), turun 12 persen dibanding 12 bulan sebelumnya.
Hanya 13 penjualan tercatat antara Juni 2025 dan Juni 2026 di kawasan yang memiliki sedikitnya 28.000 unit hunian itu.
Transaksi terakhir yang tercatat terjadi pada 18 Juni, sebelum penggerebekan kasus penipuan dan polemik Network School.
Namun, para pakar mengingatkan data transaksi bisa terlambat tercatat dan belum cukup bukti untuk mengaitkan tidak adanya penjualan yang tercatat setelah itu dengan kontroversi tersebut.
Pasar properti Forest City memang telah kesulitan selama bertahun-tahun.
Menurut Tan, properti hunian dan komersialnya sejak lama diperdagangkan lebih murah dibanding pasar Johor Bahru secara umum. Menurut Aqil, apartemen tiga kamar tidur di Forest City saat ini bernilai sekitar RM550.000 (sekitar Rp2,4 miliar), dibandingkan lebih dari RM1 juta di Johor Bahru.
“Karena permintaan hunian organik memang sudah lesu, dampak reputasi itu lebih banyak berupa kegaduhan pemberitaan ketimbang kejatuhan drastis nilai aset inti,” kata Tan.
Namun, sebelumnya tumbuh harapan bahwa SFZ dan Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapura (JS-SEZ) yang lebih luas dapat memperbaiki prospek Forest City tahun ini.

Leave a Reply