Namun begitu, dia mengaku hidup sendiri punya risiko tersendiri. Kejang-kejang yang diikuti dengan pingsan bisa membuatnya cedera, jadi dia mengatur jam tangan pintarnya agar dapat memberi tahu kontak darurat dan memanggil ambulans jika kejadian itu terulang.

Seiring kepindahannya, ia juga menyesuaikan kembali gaya hidupnya dengan kondisi fisiknya. Sebagai contoh, dia memindahkan studio seninya ke tempat barunya, supaya dia tidak perlu bolak-balik berjalan jauh.

Selain itu, dia juga menyesuaikan caranya dalam menjual seni. Belajar dari kesulitannya di pasar pertama, ia sekarang membawa lebih sedikit barang dan memakai troli saat menata lapak berikutnya, lalu menaikkan tarif jasanya.

Dia berencana ingin membuka stan sekali sebulan saja dan membuka toko daring supaya dia dapat menjual produk-produknya dari rumah.

Nay Chi juga sedang mempertimbangkan untuk menawarkan kelas seni privat untuk membantu menutupi biaya sewa dan menabung untuk jalan-jalan ke Amerika Serikat, supaya dia bisa bertemu dengan tunangannya, Jesus Yovanni, yang berdarah Meksiko-Amerika.

Sebelumnya, mereka bertemu lewat aplikasi obrolan, Discord, dan menjalani hubungan daring selama dua tahun. Mereka sudah bertunangan sejak empat bulan yang lalu.

Dia khawatir dengan waktu penerbangan selama 24 jam, karena hal itu berisiko membuat darahnya mengumpul di daerah kakinya. Akan tetapi, dia tetap “bersemangat” karena dia akhirnya akan bertemu dengan tunangannya langsung.

Keinginannya sebenarnya tidak jauh berbeda dari apa yang dibayangkan banyak anak muda lainnya. “Saya mau makan enak. Saya mau menikah. Saya mau jalan-jalan,” ungkapnya dengan nada pilu.



Source link