loading…

Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri), yang meluncurkan invasi terhadap Ukraina sejak 2022 dan hingga kini belum berakhir. Foto/Pravda

PARIS – Mantan Perdana Menteri (PM) Rusia Mikhail Kasyanov mengatakan Presiden Vladimir Putin sebenarnya memahami dirinya telah melakukan kesalahan dengan menginvasi Ukraina pada 2022. Namun, menurut Kasyanov, Putin tetap melanjutkan jalan yang telah dipilihnya.

Kasyanov (86), yang kini tinggal di pengasingan di Riga, menilai bahwa Putin belum siap bernegosiasi untuk mengakhiri perang meski tekanan ekonomi meningkat dan keresahan mulai muncul di kalangan masyarakat maupun elite Rusia.

Baca Juga: Apa Itu Kaliningrad dan Mengapa Bisa Memantik Perang Nuklir Rusia vs NATO?

“Dia melakukan kesalahan yang tidak bisa dia akui,” kata Kasyanov dalam wawancara dengan AFP di Paris, yang dilansir Minggu (4/10/2026).

Kasyanov, yang menjabat sebagai PM Rusia pada 2000-2004, mengatakan Putin sebelumnya percaya pada laporan badan-badan keamanan Rusia yang menyebut Ukraina dalam kondisi lemah.

Kasyanov juga tidak yakin perang akan berakhir tahun depan. Menurutnya, Putin justru mendapat dorongan dari kenaikan harga minyak akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Iran serta perbedaan pandangan antara Washington dan Eropa mengenai cara menghadapi Kremlin terkait Ukraina.

“Putin tentu saja sangat gembira. Dia jelas percaya bahwa dia bisa melanjutkan perang tanpa memberikan konsesi apa pun. Dan dia yakin bahwa dia sedang memenangkan perang atrisi melawan Ukraina,” ujar Kasyanov.

Dia memperingatkan bahwa musim dingin mendatang dapat menjadi sangat berat bagi Ukraina. Kasyanov mendesak negara-negara Barat memberikan “tekanan psikologis terhadap Kremlin” dengan memperkuat persatuan serta segera memasok Kyiv dengan rudal pencegat Patriot untuk melindungi wilayah udaranya dari meningkatnya serangan Rusia terhadap infrastruktur sipil.

Putin, mantan agen KGB yang akan berusia 74 tahun pada Rabu, bersikeras bahwa jutaan warga Rusia mendukung perang yang dilancarkan Moskow.

Bulan lalu, partai yang berkuasa di Rusia memenangkan mayoritas besar dalam pemilu. Para pengkritik menyebut pemilu tersebut dikendalikan secara ketat, sementara Putin menggambarkan hasilnya sebagai bentuk dukungan terhadap perang.

Kasyanov meninggalkan Rusia pada 2022 dan kini tinggal di pengasingan di Riga. Pada 2023, pemerintah Rusia menetapkannya sebagai “agen asing”, istilah yang memiliki kemiripan dengan label era Soviet; “musuh rakyat”.



–