Terkait laporan tewasnya WNI yang bergabung dengan militer Rusia di Ukraina, Yvonne mengatakan, KBRI Moskow masih memverifikasi informasi tersebut.

“KBRI Moskow tengah melakukan pendalaman dan verifikasi, termasuk terkait identitas dan status yang bersangkutan,” katanya.

Menurut Yvonne, proses verifikasi dilakukan dengan tetap menjaga kerahasiaan data pribadi. Ia mengimbau masyarakat tidak berspekulasi sebelum hasilnya dipastikan.

Pada Agustus 2026, intel Ukraina juga mengungkap sedikitnya delapan WNI telah direkrut militer Rusia. Perekrutan diduga dilakukan melalui iming-iming gaji tinggi, pekerjaan non-tempur, hingga kewarganegaraan Rusia. Namun, mereka berisiko dikirim ke medan perang meski minim pengalaman atau pelatihan militer.

Selain Taufiq, Rendi Apriyanto, 30, asal Natuna, Kepulauan Riau, juga dilaporkan tewas setelah bergabung dengan pasukan Rusia pada September 2026. Sebelum berangkat, Rendi disebut memberi tahu keluarganya bahwa ia direkrut untuk bekerja di bidang logistik. Keluarganya kemudian mendapat kabar kematiannya dari sesama WNI yang ikut berperang untuk Rusia.

Dua WNI lain yang diketahui atau diduga bergabung dengan militer Rusia adalah Muhammad Rio, mantan anggota Brimob Polda Aceh, dan Satria Kumbara, mantan personel TNI AL. Rio diduga bergabung tanpa melapor kepada perwakilan Indonesia, sementara Satria diketahui menjadi tentara bayaran Rusia.

Yvonne mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap tawaran kerja di luar negeri. Ia mengimbau calon pekerja untuk memastikan keabsahan tawaran melalui instansi berwenang, tidak tergiur imbalan yang terlalu tinggi, dan memahami isi kontrak sebelum menandatanganinya.



Source link