
loading…
Dari sentimen dalam negeri, kombinasi guncangan ganda (double shock) yang secara langsung menekan ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional bikin rupiah terjebak di kisaran level Rp18 ribu per dolar AS. Foto/Dok
Dari sentimen dalam negeri, kombinasi antara harga minyak yang tinggi (di kisaran USD100 per barel) dan lonjakan harga pangan menimbulkan guncangan ganda (double shock) yang secara langsung menekan ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional. Oleh karena itu, kombinasi tersebut berdampak terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN & Kekhawatiran Fiskal.
Sebagai negara pengimpor bersih minyak (net oil importer), kenaikan harga minyak mentah internasional di atas asumsi makro APBN secara otomatis melipatgandakan kebutuhan belanja negara untuk subsidi BBM dan LPG serta kompensasi energi. Setiap kenaikan ICP (Indonesian Crude Price) memperlebar defisit APBN.
“Dalam hal tersebut Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit (fiscal space) yaitu menahan harga energi domestik yang beresiko memperlebar defifit APBN atau menyesuaikan harga energi domestik tetapi akan berdampak terhadap inflasi sehingga akan memberatkan masyarakat,” jelas Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi.
Baca Juga: Rupiah Masih Tak Berdaya di Rp18.060 per Dolar AS, Kenali Sentimen Pemicunya
Sehingga berdampak terhadap tekanan nilai tukar dan pembiayaan utang karena tingginya impor energi meningkatkan kebutuhan devisa dolar AS, yang menekan nilai tukar rupiah. Pelemahan mata uang berisiko memperbesar biaya pembayaran imbal hasil (yield) dan pokok utang luar negeri, membuat Daya Beli Masyarakat menurun terutama kelompok masyarakat menengah ke bawah, yang porsi pengeluarannya bertumpu pada kebutuhan dasar.

Leave a Reply