
loading…
Sampai kapan ekonomi dunia sanggup melawan gravitasi sebelum terhempas ke jurang resesi? Kata ketahanan (resilience) menjadi mantra yang diulang-ulang di setiap sesi diskusi. Foto/Dok
Namun, di balik ketenangan kopi dan jamuan dingin, tersimpan kecemasan mendalam, sampai kapan ekonomi dunia sanggup “melawan gravitasi” sebelum terhempas ke jurang resesi? Kata “ketahanan” (resilience) menjadi mantra yang diulang-ulang di setiap sesi diskusi. Meski dihantam lonjakan harga minyak akibat perang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Iran, gejolak geopolitik, dan ancaman krisis utang, ekonomi global secara mengejutkan belum jatuh ke dalam jurang krisis massal.
“Kita menghadapi Covid-19, perang di Ukraina, guncangan rantai pasok, dan perang di Iran. Alarm bahaya terus berbunyi, namun krisis massal yang tersinkronisasi belum terjadi. Ada perasaan bahwa banyak negara dari berbagai tingkat pendapatan seolah-olah sedang melawan hukum gravitasi,” ungkap Clemence Landers, Wakil Presiden Center for Global Development Washington.
Baca Juga: Ledakan Utang Rp6.200 Triliun dan Krisis Mengancam Negara Berkembang
Bencana Fiskal: Subsidi Energi Mencekik 0,5% PDB Dunia
IMF dengan cepat mengingatkan para delegasi bahwa “ketahanan” yang dinikmati selama enam bulan terakhir dibeli dengan harga yang sangat mahal dan tidak akan bertahan lama. Baca Juga: IMF Sebut Barat Makin Rentan Ambruk Dihantam Krisis Energi & Jeratan Utang
Dalam laporan utamanya, World Economic Outlook (WEO), IMF membeberkan bahwa pemerintah di seluruh dunia telah menghabiskan 0,5% dari PDB global hanya untuk menyuntikkan subsidi energi demi melindungi warga dari lonjakan harga minyak akibat Perang Iran.

Leave a Reply