
loading…
Adi Harnowo, Peminat Sosial Kemasyarakatan. Foto/Dok. SindoNews
Peminat Sosial Kemasyarakatan
Penggemar Angkringan
DI atas tikar angkringan, sebungkus nasi kecil dengan lauk sederhana menyimpan pelajaran besar tentang ekonomi kerakyatan. Sementara negara sibuk merumuskan strategi pangan berskala nasional, rakyat telah lebih dahulu mempraktikkan kedaulatan pangan dengan cara yang paling membumi: memastikan makanan tetap bisa dibeli.
Ada yang menarik dari sebungkus sego kucing di angkringan. Nasinya sedikit, lauknya sederhana—teri, tempe kering, sambal, atau suwiran tongkol. Bungkusnya kecil, harganya relatif terjangkau, tetapi maknanya jauh melampaui ukuran porsi dan nominal yang dibayarkan.
Di tengah hiruk-pikuk perdebatan tentang ketahanan pangan, swasembada, cadangan beras pemerintah, dan kedaulatan pangan nasional, sego kucing justru menawarkan sebuah pelajaran yang kerap luput dari meja-meja perumusan kebijakan: pangan tidak hanya soal berapa banyak yang diproduksi negara, melainkan juga soal apakah rakyat mampu membelinya.
Sego kucing adalah potret kecil kehidupan ekonomi rakyat. Ia lahir dari kebutuhan, bertahan melalui kreativitas, dan tumbuh bersama jaringan ekonomi lokal. Di angkringan, orang tidak harus menunggu program besar untuk bisa makan. Ada mekanisme sederhana yang mempertemukan penjual, pembeli, pemasok bahan pangan, dan ruang sosial masyarakat dalam satu ekosistem ekonomi yang hidup.
Porsinya mikro, tetapi daya tahannya makro. Harganya relatif demokratis, distribusinya dekat dengan konsumen, dan keberadaannya bertumpu pada jaringan ekonomi yang tersebar. Di sana, ekonomi tidak semata-mata bergerak berdasarkan angka pertumbuhan, tetapi berdasarkan kebutuhan paling mendasar manusia: makan.
Angkringan Laboratorium Ekonomi Kerakyatan
Angkringan bukan sekadar tempat menjual makanan murah. Ia merupakan ruang sosial sekaligus ruang ekonomi tempat beragam lapisan masyarakat bertemu tanpa harus mengenakan identitas kelasnya masing-masing.
Buruh, pedagang, mahasiswa, pengemudi ojek, pekerja informal, hingga pegawai kantoran dapat duduk berdekatan. Mereka memesan makanan sesuai kemampuan kantongnya. Tidak ada kewajiban membeli satu paket besar. Tidak ada keharusan mengikuti standar konsumsi tertentu. Orang bisa membeli dua bungkus nasi, menambah gorengan, atau sekadar memesan teh hangat sesuai kondisi keuangannya.
Di sinilah sego kucing memperlihatkan wajah ekonomi yang adaptif. Ia memahami bahwa daya beli masyarakat tidak selalu sama dan pendapatan tidak selalu datang secara teratur.
Bagi sebagian orang, membeli makanan bukan perkara memilih menu yang paling disukai, melainkan menyesuaikan pengeluaran agar kebutuhan lain tetap terpenuhi. Dalam situasi seperti itu, makanan berporsi kecil dengan harga terjangkau bukan sekadar pilihan konsumsi, melainkan mekanisme bertahan hidup.
Tentu saja, kita tidak perlu meromantisasi kemiskinan atau menganggap porsi kecil sebagai gambaran ideal pemenuhan gizi. Sebungkus sego kucing tidak otomatis mencukupi kebutuhan nutrisi seseorang. Namun, justru di situlah letak persoalan yang harus dibaca oleh negara: ketika keterjangkauan menjadi pertimbangan utama, sistem pangan harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dengan tetap menjamin kecukupan gizi dan keamanan pangan.
Sego kucing mengajarkan bahwa sistem ekonomi yang bertahan bukan selalu sistem yang paling besar, melainkan sistem yang paling mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Angkringan Wujud Kedaulatan Pangan
Kedaulatan pangan sering dibicarakan melalui bahasa yang megah: produksi nasional, produktivitas pertanian, modernisasi teknologi, cadangan strategis, stabilisasi harga, hingga penguatan rantai pasok. Semua itu penting.
Negara memang membutuhkan perencanaan, infrastruktur, teknologi, dan kapasitas produksi untuk memastikan ketersediaan pangan. Namun, persoalannya muncul ketika keberhasilan kebijakan pangan terlalu bertumpu pada indikator makro, sementara pengalaman sehari-hari rakyat tidak mendapatkan tempat yang sepadan dalam evaluasi kebijakan.
Produksi meningkat, tetapi apakah harga makanan masih terjangkau?. Cadangan pangan tersedia, tetapi apakah distribusinya menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Pasar dipenuhi komoditas, tetapi apakah rumah tangga berpendapatan rendah memiliki uang untuk membelinya?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut semestinya menjadi bagian mendasar dari evaluasi kebijakan pangan nasional.
Pasalnya, pangan yang tersedia belum tentu pangan yang dapat diakses. Pasar yang penuh belum tentu berarti meja makan rakyat tercukupi. Bahkan, keberhasilan menjaga stok nasional tidak dengan sendirinya menjamin bahwa setiap keluarga dapat memenuhi kebutuhan pangannya setiap hari.
Dalam ekonomi, persoalan ini berkaitan dengan daya beli, distribusi pendapatan, harga riil, dan akses terhadap pasar. Ketahanan pangan tidak cukup diukur dari sisi pasokan (supply), tetapi juga harus memperhitungkan kemampuan masyarakat mengakses pangan secara fisik dan ekonomi.
Di sinilah sego kucing menjadi metafora yang relevan. Angkringan tidak menunggu seluruh persoalan ekonomi nasional selesai untuk melayani pembeli. Ia beroperasi dengan membaca kondisi pasar yang paling dekat: siapa pembelinya, berapa kemampuan belanjanya, berapa biaya bahan baku, dan bagaimana makanan bisa dijual pada harga yang masuk akal.

Leave a Reply