RIYADH: Dua warga negara Indonesia (WNI) mengalami luka ringan akibat serangan kelompok Houthi Yaman di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, pada Minggu (11/10). Keduanya telah mendapat perawatan di dua rumah sakit berbeda dan diperbolehkan pulang pada hari yang sama.
Informasi mengenai kondisi kedua WNI tersebut disampaikan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh pada Selasa (13/10).
“(Mereka) mendapat perawatan medis di Rumah Sakit Sulaiman Habib, Al Shahafah dan Rumah Sakit Sulaiman Habib, Al-Takhasusi di Riyadh. Keduanya telah diperbolehkan pulang pada hari yang sama,” demikian pernyataan KBRI Riyadh.
KBRI juga melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisi WNI setelah serangan kembali terjadi pada Senin (12/10) dan Selasa (13/10).
Petugas KBRI mendatangi Mouwasat Hospital dan Riyadh Hospital untuk memeriksa kemungkinan adanya korban berkewarganegaraan Indonesia.
“Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh pada hari ini, Selasa, 13 Oktober 2026, telah kembali mendatangi dua Rumah Sakit di Riyadh yaitu Mouwasat Hospital dan Riyadh Hospital. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari kedua Rumah Sakit tersebut, tidak ada korban Warga Negara Indonesia,” demikian keterangan KBRI.
Serangkaian serangan Houthi telah menyasar sejumlah fasilitas di Arab Saudi, termasuk bandara yang menjadi salah satu pintu masuk utama penerbangan internasional.
Pada Sabtu (10/10), serangan di Bandara Internasional King Khalid menewaskan 13 orang dan menyebabkan ratusan lainnya terluka.
Sehari kemudian, serangan di lokasi yang sama kembali menewaskan satu orang dan melukai 11 lainnya.
Korban meninggal dunia berasal dari sejumlah negara, yakni Arab Saudi, Bangladesh, Mesir, Amerika Serikat, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan.
Rangkaian serangan tersebut menjadi salah satu yang paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade, sekaligus menyebabkan gangguan besar terhadap aktivitas penerbangan.
KBRI IMBAU WNI WASPADA
Kelompok Houthi sebelumnya memperingatkan pesawat komersial agar menghindari wilayah udara Arab Saudi yang mereka nyatakan sebagai zona operasi militer.
Gangguan penerbangan akibat serangan tersebut turut berdampak pada perjalanan jemaah umrah yang hendak menuju Mekkah dan Madinah.
Sejumlah jemaah umrah asal Indonesia, termasuk dari Sulawesi Selatan, dilaporkan mengalami gangguan jadwal keberangkatan.
Menyusul situasi keamanan tersebut, Kementerian Luar Negeri RI mengimbau WNI untuk membatasi perjalanan yang tidak diperlukan serta memeriksa kembali status penerbangan menuju Arab Saudi.
Sementara itu, KBRI Riyadh meminta masyarakat Indonesia yang berada di Arab Saudi untuk meningkatkan kewaspadaan, menghindari lokasi rawan, dan mengikuti arahan otoritas setempat.
WNI juga diminta memantau perkembangan situasi melalui informasi resmi pemerintah Arab Saudi dan KBRI.
Selain itu, KBRI mengingatkan adanya pembatasan ketat terhadap pengambilan maupun penyebaran foto dan video yang berkaitan dengan serangan rudal serta pesawat nirawak atau drone.
“Warga Negara Indonesia di Arab Saudi kembali diimbau untuk tidak mengambil foto, merekam, menyebarkan atau membagikan informasi terkait penangkisan serta lokasi jatuhnya rudal dan drone. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menegaskan, pembatasan terkait pengambilan dan penyebaran foto/video kejadian, penyebutan atau penyebaran lokasi kejadian dan penyebaran informasi yang beredar di media sosial. Pelanggaran terhadap pembatasan tersebut dapat dikenai sanksi sesuai hukum yang berlaku di Arab Saudi,” demikian keterangan KBRI Riyadh.

Leave a Reply