
loading…
Ali al-Amoudi dikenal sebagai pemimpin de facto Hamas. Foto/X/@ThetiMapping
Naiknya posisi dia menggambarkan, di satu sisi, betapa parahnya penyusutan jajaran pimpinan Hamas sejak peristiwa pembantaian tersebut, namun di sisi lain, hal itu juga menjelaskan mengapa organisasi ini terus bertahan, beroperasi, dan mempertahankan dominasinya di Gaza.
Siapa Ali al-Amoudi? Pemimpin de Facto Hamas yang Sedang Bangun Mesin Politik dan Militer di Gaza
1. Memiliki Kedekatan dengan Sinwar
Melansir YnetNews, Al-Amoudi, yang juga dikenal sebagai Abu Ahmed, memiliki kedekatan personal yang erat dengan Sinwar serta visi yang diusung Sinwar dalam satu dekade sebelum serangan 7 Oktober. Latar belakang keduanya bahkan memiliki sejumlah kemiripan. Al-Amoudi lahir di Khan Younis pada tahun 1975, sementara Sinwar—yang lebih tua lebih dari satu dekade darinya—lahir di kamp pengungsi di kota tersebut.
Al-Amoudi bergabung dengan Hamas selama Intifada Pertama dan menjadi anggota sel berbasis Gaza yang beroperasi di Tepi Barat. Ia terlibat dalam pembunuhan petugas Shin Bet, Noam Cohen (yang dikenal sebagai “Kapten Majdi”), di Ramallah pada Februari 1994—sebuah peristiwa yang kemudian menjadi bagian dari narasi legendaris Hamas. Tak lama kemudian, ia ditangkap di Abu Dis, dekat Yerusalem, setelah baku tembak yang berlangsung selama beberapa jam; dalam insiden itu, salah satu komandan sel tewas dan al-Amoudi terluka.
2. Pernah Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup sebanyak 3 Kali oleh Zionis
Al-Amoudi dijatuhi hukuman tiga kali hukuman seumur hidup dan tetap dipenjara hingga pertukaran tahanan Gilad Shalit pada tahun 2011. “Nama sayalah yang terakhir disetujui,” klaimnya setelah dibebaskan, seraya menggambarkan betapa kerasnya penolakan Israel untuk membebaskannya.
Mahmoud Mardawi, tokoh senior Hamas asal Tepi Barat yang kini tinggal di luar negeri, membenarkan hal tersebut dengan menjelaskan: “Israel sangat menentang pembebasan mereka yang telah membunuh atau mencoba menculik personel keamanan, khususnya dari Shin Bet, dan al-Amoudi berada di urutan teratas daftar itu.”
Selama masa penahanannya—yang ia gambarkan sebagai “kamp musim panas edukatif”—al-Amoudi menjalin hubungan erat dengan Sinwar yang terus berlanjut setelah mereka bebas. “Dia adalah salah satu orang terdekat Abu Ibrahim (Sinwar), baik di dalam maupun di luar penjara,” ujar seorang pejabat senior Fatah yang sebelumnya pernah dipenjara di Israel. Antara tahun 2015 dan 2017, al-Amoudi memimpin departemen propaganda sayap militer Hamas. Dari tahun 2017 hingga 2021, ia menjabat sebagai kepala staf Sinwar, dan sejak 2021 ia memimpin aparatur propaganda Hamas di Gaza.

Leave a Reply