PENDEKATAN PROAKTIF

Dalam strategi keamanan siber baru tersebut, Shanmugam mengatakan, Singapura akan berupaya bertindak lebih dini, dalam skala nasional, dan secepat ancaman yang muncul.

Menurutnya, strategi baru ini “lebih luas dibandingkan pembangunan pertahanan siber nasional selama ini”.

“Strategi ini mencakup cara kami memperkuat infrastruktur kritis dan ruang siber secara lebih luas; membangun kemampuan di bidang AI dan kuantum; memperdalam kemitraan global; serta berinvestasi pada ekosistem dan tenaga kerja keamanan siber,” tuturnya.

Shanmugam mengatakan, pesatnya perkembangan AI membuat situasi semakin menantang.

“AI memungkinkan para pelaku bergerak dengan lebih cepat, dalam skala lebih besar, dan semakin canggih,” ujarnya.

Agen AI dapat dimanipulasi untuk melakukan tindakan yang tidak diinginkan hingga membahayakan sistem penting. Menurut Shanmugam, ancaman siber berbasis AI bukan lagi soal “jika”, melainkan “kapan”.

“Kita tidak bisa menolak adopsi AI. Namun, kita perlu berupaya mengadopsinya dengan cara yang aman,” katanya.

Secara global, agen AI berkembang lebih cepat daripada kemampuan sistem pengaman untuk mengimbanginya, kata Shanmugam.

Menurutnya, agen AI sudah menjalankan tugas secara mandiri tanpa izin dan mengakses sistem yang seharusnya tidak boleh mereka akses.

Ia mencontohkan agen AI yang bulan lalu mendapat akses tanpa izin ke data nonpublik di portal statistik pemerintah Australia.

“Akan ada lebih banyak insiden, lebih banyak serangan. Kita semua harus memperkuat pertahanan dan ketahanan siber agar dapat pulih ketika serangan terjadi,” katanya.

MODEL PERTAHANAN SIBER SINGAPURA

Untuk itu, pemerintah Singapura akan mengembangkan PDNS guna mengurangi paparan terhadap phishing, penipuan, malware, dan ancaman siber lainnya, kata Shanmugam.

DNS atau domain name system bekerja seperti buku telepon internet, menerjemahkan alamat web yang mudah dibaca menjadi alamat internet numerik yang dapat dibaca mesin, dan sebaliknya. Ketika seseorang mencoba terhubung ke domain yang diketahui berbahaya, PDNS dapat memutus koneksi “sebelum ancaman mencapai pengguna”, katanya.

Menjelaskan mengapa Singapura harus “bertindak lebih dini” menghadapi ancaman, Shanmugam mengatakan, para pelaku kejahatan selalu mencari celah dalam pertahanan siber.

“Pertahanan siber tradisional sangat bergantung pada perlindungan sistem, penilaian berkala, dan respons setelah terjadi masalah,” katanya.

“Namun, para pelaku kejahatan terus mencari kerentanan dan berupaya mendapatkan akses secara persisten.”

Karena itu, pertahanan Singapura harus berjalan terus-menerus dengan memantau dan memburu ancaman, menemukan kelemahan sebelum penyerang, lalu segera memperbaikinya.

Pemerintah dan industri juga harus bekerja sama dalam skala nasional, kata Shanmugam.

Menurutnya, Operation Cyber Guardian tahun lalu menunjukkan bahwa penyerang canggih tidak melihat pemerintah dan perusahaan telekomunikasi sebagai sistem yang terpisah, melainkan mencari titik lemah di seluruh sistem.

“Pertahanan nasional kita juga harus melihat seluruh sistem,” kata Shanmugam.

Singapura juga harus “bertindak secepat ancaman”, tambahnya.

“Jika AI memungkinkan penyerang menemukan kerentanan dan melancarkan serangan lebih cepat, pihak yang bertahan juga harus menggunakan AI,” katanya.



Source link