JAKARTA: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mempertimbangkan penghapusan praktik siswa otomatis naik kelas mulai tahun ajaran 2027. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan kebijakan tersebut dapat diterapkan apabila usulan Dewan Pendidikan mendapat persetujuan dan menjadi rekomendasi konvensi pendidikan.

Mu’ti menyampaikan rencana tersebut dalam forum yang disiarkan melalui kanal YouTube Universitas Pendidikan Ganesha, Kamis (8/10).

“Kalau ini disetujui dan menjadi bagian dari rekomendasi konvensi ini, tentu kami siap melaksanakan. Sehingga mulai tahun ajaran 2027 dan seterusnya, tidak semua murid otomatis naik kelas,” kata menteri berusia 58 tahun itu. 

Usulan tersebut dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap fenomena yang disebut Mu’ti sebagai rumus RMS atau “rajin malas sama saja” dalam sistem pendidikan.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak sehat apabila terus berkembang menjadi budaya di sekolah karena siswa yang menunjukkan kesungguhan belajar dan mereka yang belum memenuhi kompetensi dapat memperoleh perlakuan yang sama dalam kenaikan kelas.

Mu’ti menilai sekolah perlu memberikan apresiasi kepada siswa yang rajin, memiliki motivasi belajar, dan menunjukkan perkembangan kemampuan selama mengikuti pembelajaran.

Sebaliknya, siswa yang belum memenuhi kompetensi tidak semestinya langsung dianggap siap melanjutkan pendidikan ke tingkat berikutnya.

BUKAN UNTUK MENGHUKUM SISWA

Mu’ti menekankan perubahan mekanisme kenaikan kelas tidak dimaksudkan semata-mata untuk memberikan hukuman kepada siswa yang belum memenuhi standar pembelajaran.

Menurutnya, kebijakan tersebut diarahkan untuk membangun karakter, meningkatkan kesungguhan belajar, dan membentuk budaya pendidikan yang menghargai usaha serta pencapaian kompetensi.

Meski demikian, ia menegaskan usulan tersebut masih memerlukan kajian akademik secara komprehensif dengan melibatkan masukan para pakar pendidikan sebelum dapat diterapkan.

Pandangan serupa disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dalam forum yang sama.

Brian mempertanyakan kondisi pendidikan yang menurutnya tidak lagi memberikan ruang kompetisi memadai kepada siswa, antara lain karena tidak adanya tes masuk dan mekanisme tinggal kelas.

“Anak-anak kita kemarin tidak ada tes masuk, tidak ada tinggal kelas. Lalu, bagaimana dengan kompetisinya? Padahal di luar sana, persaingan sangat keras,” tutur Brian.



Source link