
loading…
Anggota Watimpres Ignasius Jonan buka suara terkait penanganan karhutla dan pencemaran asap lintas batas di Asia Tenggara. Menurutnya, ASEAN harus memperkuat kolaborasi nyata daripada saling menuduh. Foto/Dok. SindoNews
Mantan menhub ini menyoroti banyak komentar dan silang pendapat dari para tokoh publik dari berbagai negara ASEAN , seperti Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Menurutnya, negara-negara anggota ASEAN harus kembali ke komitmen awal mereka dan memperkuat kolaborasi nyata daripada saling menuduh. Baca juga: Tambah 3 Lagi, Singapura Bidik 10 Perusahaan yang Diduga Terlibat Karhutla RI
Dalam unggahannya, Jonan mengingatkan bahwa wilayah Asia Tenggara sebenarnya memiliki payung hukum dan kerangka kerja sama yang jelas. “Saya menganjurkan, karena sudah ada kesepakatan di ASEAN yang dibuat tahun 2012 dan berlaku efektif tahun 2014, dan saya kira belum dicabut sampai sekarang, adalah ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution. Kita kembali kepada agreement itu,” ujar Jonan dikutip dari akun Instagram @ignasius.jonan, dikutip Rabu (21/10/2026).
Ia menekankan betapa pentingnya kerja sama antarpemerintah (G-to-G) di wilayah untuk menangani karhutla dengan lebih cepat dan efektif serta berkonsentrasi pada pencegahan jangka panjang agar krisis tidak terulang setiap tahunnya.
Jonan mengungkapkan tiga poin penting penanganan asap lintas batas. Pertama, Penguatan Kerja Sama Antarpemerintah. Pemerintah Indonesia, Singapura, dan Malaysia disarankan untuk bekerja sama secara erat untuk mencari solusi pencegahan yang komprehensif.

Leave a Reply