JAKARTA: Fenomena udara dingin atau bediding kembali dirasakan di berbagai wilayah Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, suhu dingin tersebut masih akan berlangsung hingga puncak musim kemarau pada akhir Juli hingga Agustus, bahkan berpotensi berlanjut hingga awal September di sejumlah daerah.
BMKG menjelaskan, fenomena tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya penguatan Monsun Australia. Angin musim yang membawa massa udara kering itu mengurangi kandungan uap air di atmosfer sehingga pembentukan awan menjadi lebih sedikit.
Minimnya tutupan awan membuat panas yang tersimpan di permukaan Bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya, suhu udara turun lebih signifikan, terutama menjelang pagi.
“Data BMKG 10 tahun terakhir mencatat penurunan suhu mulai terasa di bulan Juli dan mencapai puncaknya pada Juli sampai Agustus. Sebagai contoh, Kabupaten Malang, suhunya bisa drop hingga di bawah 19,5 derajat Celcius, jauh lebih dingin dibandingkan Jakarta yang relatif stabil hangat,” kata BMKG melalui akun Instagram resminya, dikutip Senin (27/7).
Pengamatan melalui peta Land Surface Temperature (LST) malam dari sensor MODIS pada satelit cuaca juga menunjukkan zona bersuhu rendah membentang mengikuti deretan pegunungan di Pulau Jawa. Kondisi ini mengindikasikan kawasan pegunungan menjadi wilayah yang paling terdampak fenomena bediding.
Di sejumlah daerah dataran tinggi, suhu bahkan mencapai titik yang sangat rendah. BMKG mencatat suhu minimum di kawasan Gunung Bromo dalam sebulan terakhir mencapai 3,9 derajat Celsius.
Sementara itu, suhu terendah tercatat di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, yakni 0,7 derajat Celsius. Dalam kondisi tertentu, embun yang menempel di dedaunan dapat membeku menjadi kristal es atau yang dikenal masyarakat sebagai embun upas.
EL NINO IKUT MEMPENGARUHI
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University Givo Alsepan mengatakan, bediding merupakan fenomena atmosfer yang normal terjadi selama musim kemarau.
Menurut dia, fenomena tersebut bukan dampak langsung perubahan iklim, melainkan bagian dari dinamika iklim musiman yang hampir selalu terjadi pada periode Juni hingga September.
Ia menambahkan, perkembangan fenomena El Nino juga berpotensi memperkuat kondisi tersebut.
El Nino menyebabkan curah hujan menurun, kelembapan udara berkurang, dan langit lebih sering cerah pada malam hari sehingga proses pendinginan akibat pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih optimal.
Selama fenomena ini berlangsung, masyarakat diimbau menjaga kesehatan, terutama anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan. Udara yang dingin dan kering dapat memperburuk gejala influenza, asma, maupun infeksi saluran pernapasan.
“Masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan karena bediding merupakan bagian dari siklus iklim musiman. Yang terpenting adalah terus mengikuti informasi prakiraan cuaca dan iklim dari BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca secara lebih baik,” kata Givo, dikutip Kompas TV.

Leave a Reply