loading…

Tradisi tabarruk atau ngalap berkah telah lama dikenal di kalangan umat Islam, termasuk masyarakat Indonesia. Praktik ini dilakukan dengan harapan memperoleh tambahan kebaikan dan keberkahan dari Allah SWT. Foto ilustrasi/ist

Tradisi tabarruk atau ngalap berkah telah lama dikenal di kalangan umat Islam, termasuk masyarakat Indonesia. Praktik ini dilakukan dengan harapan memperoleh tambahan kebaikan dan keberkahan dari Allah SWT, antara lain melalui ziarah ke tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah dan spiritual, seperti Kakbah serta makam para nabi, ulama, dan orang-orang saleh.

Secara bahasa, tabarruk berarti mencari berkah . Para ulama kerap menjelaskan makna berkah dengan istilah ziyadatul khair, yakni bertambahnya kebaikan.

Dalam praktiknya, tabarruk berkaitan dengan keyakinan bahwa Allah merupakan satu-satunya sumber keberkahan, sedangkan benda, tempat, atau perantara tertentu tidak memiliki kekuatan secara mandiri di luar kehendak-Nya.

Lantas, bagaimana tradisi tabarruk dikenal dalam sejarah Islam dan apa saja kisah yang menjadi rujukannya?

Tabarruk dalam Kisah Umat Terdahulu

Praktik mencari keberkahan melalui sesuatu yang memiliki kedudukan khusus telah disebut dalam sejumlah riwayat dan penafsiran Al-Qur’an. Salah satunya terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 248 yang mengisahkan tentang tabut atau peti peninggalan keluarga Nabi Musa dan Nabi Harun.

Baca juga: Allah Janjikan Keberkahan bagi Orang Beriman dan Bertakwa, Ini Dalilnya

Allah SWT berfirman:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ

Artinya: “Dan nabi mereka berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah datangnya tabut kepadamu, yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat.’” (QS Al-Baqarah: 248, petikan ayat).

Dalam Tafsir Al-Kasysyaf, az-Zamakhsyari menjelaskan tabut tersebut sebagai peti yang berkaitan dengan peninggalan Nabi Musa. Keberadaannya dikisahkan membawa ketenangan bagi Bani Israil. Riwayat ini sering dibahas dalam kajian tentang keberkahan benda yang memiliki kaitan dengan para nabi.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa keberkahan tetap bersumber dari Allah SWT. Benda itu sendiri tidak menjadi sumber kekuatan yang berdiri sendiri, melainkan keberkahan yang Allah kehendaki.

Kakbah, Tempat yang Diberkahi Allah

Al-Qur’an juga menyebut Kakbah sebagai tempat yang diberkahi. Hal ini termaktub dalam Surah Ali Imran ayat 96:



–