loading…

Penerbangan FlyDubai FZ1073 dari Dubai, UEA, menuju Tel Aviv, Israel, berubah jadi situasi yang nyaris berujung tragedi setelah terjadi kekerasan di dalam kokpit, Rabu (30/9/2026). Foto/NDTV

TEL AVIV – Insiden yang memicu kekhawatiran pembajakan pesawat FlyDubai tujuan Israel pada 30 September dengan cepat menjadi subjek perang informasi. Teori-teori konspirasi bermunculan secara online ketika pihak berwenang masih menangani insiden tersebut.

Pesawat Boeing 737 MAX 8 tersebut terbang dari Dubai menuju Tel Aviv dengan membawa 174 penumpang ketika kopilot diduga menyerang kapten menggunakan pisau—laporan lain menyebutnya kapak—dan berusaha mengambil alih kendali pesawat.

Baca Juga: Drama ‘Pembajakan’ FlyDubai Menuju Israel: Pilot Ditikam, Pesawat Menukik 4.300 Meter dalam Hitungan Detik

Para penumpang dan awak pesawat turun tangan membantu melumpuhkan pelaku. Pesawat kemudian dialihkan ke Tabuk, Arab Saudi, dan mendarat dengan selamat.

Namun, hanya dalam waktu lebih dari satu jam setelah sinyal darurat pertama dikirim, media sosial sudah dipenuhi klaim bahwa insiden tersebut sebenarnya bukan serangan sungguhan.

Sebaliknya, sejumlah unggahan menuduh Israel, Mossad, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Zionis, maupun orang Yahudi telah merekayasa atau mengatur insiden tersebut.

Bagaimana Teori Konspirasi “False Flag” Menyebar?

Narasi konspirasi besar pertama berpusat pada klaim bahwa insiden FlyDubai merupakan operasi “false flag” Israel. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan serangan atau operasi yang diduga sengaja dirancang agar pihak atau organisasi lain terlihat sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Combat Antisemitism Movement (CAM) dan Antisemitism Research Center (ARC) memantau aktivitas media sosial setelah insiden tersebut.

Analisis mereka menemukan bahwa unggahan pertama yang secara eksplisit menuduh Israel merekayasa insiden muncul 67 menit setelah pesawat mengirimkan sinyal darurat pertama.

Dalam periode pemantauan selama 12 jam, para peneliti memeriksa 4.136 unggahan yang memuat frasa “false flag”. Sebanyak 2.963 unggahan mengaitkan insiden tersebut dengan Israel, Mossad, Netanyahu, Zionis, atau orang Yahudi.

Jumlah unggahan tersebut meningkat dengan cepat. Menurut temuan ARC, jumlah unggahan terkait teori konspirasi mencapai 100 pada pukul 03.07 ET, melewati 500 pada pukul 05.42, menembus 1.000 pada pukul 07.35, dan mencapai 2.000 pada pukul 09.36.

Aktivitas tersebut terus meningkat hingga para peneliti menghentikan pengumpulan data pada pukul 10.43.

Sekitar 72 persen unggahan “false flag” yang dipantau peneliti menyebarkan narasi yang menyalahkan Israel atau orang Yahudi.

Proporsinya kemudian meningkat menjadi 81 persen dan 82 persen dalam dua periode pemantauan per jam terakhir. Lonjakan terbesar terjadi antara pukul 09.00 hingga 10.00 ET, ketika 623 unggahan tercatat.

Salah satu unggahan yang dibuat oleh tokoh teori konspirasi asal AS, Jackson Hinkle, dilaporkan memperoleh lebih dari 1,5 juta penayangan di X. Banyak unggahan lainnya juga menggambarkan insiden tersebut sebagai operasi Israel.

Oliver Marks, peneliti ARC, mengatakan kecepatan munculnya reaksi tersebut sangat signifikan.

“Yang mencolok di sini bukan hanya volumenya, tetapi juga kecepatannya,” katanya, yang dikutip FirstPost, Minggu (4/10/2026). “Hanya 67 menit yang dibutuhkan agar insiden nyaris jatuhnya pesawat komersial oleh seorang pilot teroris menjadi bahan bagi para penganut teori konspirasi antisemit di seluruh dunia.”

Marks menilai narasi tersebut tampaknya berasal dari kerangka teori konspirasi yang sudah ada sebelumnya, bukan terbentuk setelah munculnya bukti mengenai insiden tersebut.

“Jelas bahwa ini bukan narasi yang terbentuk sebagai respons terhadap suatu insiden,” katanya. “Sebaliknya, ini merupakan bagian dari skrip yang sudah ada dan siap digunakan setiap kali muncul kesempatan.”

Laporan ARC juga membandingkan pola tersebut dengan kampanye pengaruh yang memanfaatkan peristiwa terkini untuk memperdalam perpecahan sosial serta menggambarkan Israel dan orang Yahudi sebagai kekuatan tersembunyi di balik berbagai peristiwa yang sebenarnya tidak berkaitan.

Laporan tersebut secara khusus merujuk pada metode yang dikaitkannya dengan operasi pengaruh negara-negara yang bermusuhan, termasuk yang dituduhkan kepada Rusia.

Teori yang Mengaitkan Insiden dengan Netanyahu

Gelombang klaim lainnya di internet menghubungkan insiden tersebut dengan situasi politik Israel.



–