Tantangan pendanaan juga dihadapi negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Ron Chiong, mitra pengelola Perpetual Space Ventures yang berbasis di Singapura, mengatakan, banyak perusahaan antariksa baru kesulitan menarik investor swasta karena biaya tinggi, pengembangan yang lama, dan imbal hasil yang belum pasti.
Menurutnya, pendanaan pemerintah masih penting untuk pengembangan teknologi tahap awal, sementara investor swasta cenderung memilih perusahaan yang sudah membuktikan kemampuannya di orbit.
Riset industri menunjukkan, investasi swasta di sektor antariksa Asia-Pasifik mencapai US$5,9 miliar antara 2016 dan 2026. Namun, sebagian besar mengalir ke perusahaan di China, India, Jepang, Australia, dan Selandia Baru.
Perusahaan rintisan Asia Tenggara berupaya merebut porsi lebih besar, termasuk Perpetual Space Ventures yang menargetkan penggalangan dana hingga US$50 juta khusus untuk kawasan ini.
Pemerintah di kawasan juga menggelontorkan dana besar untuk industri antariksa. Singapura mengalokasikan US$164 juta untuk proyek teknologi antariksa sejak 2022, sementara Vietnam meresmikan pusat antariksa awal tahun ini dengan investasi lebih dari US$260 juta, sebagian besar ditopang bantuan pembangunan Jepang.
Chiong mempertanyakan kelayakan bisnis fasilitas peluncuran antariksa Thailand tanpa jaringan perusahaan peluncuran, investor, dan pelanggan yang lebih luas.
Menurutnya, pemerintah dan perusahaan besar perlu bekerja sama menciptakan iklim investasi swasta.
“Kalau hanya satu yang menari, pesta tak akan meriah,” ujarnya.

Leave a Reply