Asosiasi industri TI India, NASSCOM, menegaskan bahwa program tersebut berkaitan dengan imigrasi permanen dan berbeda dari program visa H-1B bagi pekerja sementara, yang tidak terdampak penangguhan ini.
Para analis mengatakan kepada CNA bahwa dampak langsung terhadap perusahaan TI India akan terbatas. Namun, pembatasan berkepanjangan dapat meningkatkan biaya tenaga kerja dan mengganggu rencana pekerja untuk menetap secara permanen di AS.
“Saya melihat ini lebih sebagai persoalan mempertahankan talenta ketimbang gangguan langsung terhadap bisnis (perusahaan TI India),” kata Achyuta Ghosh, pemimpin riset eksekutif di perusahaan analis HFS Research.
DAMPAK TERBATAS, TETAPI BIAYA BERPOTENSI MENINGKAT
Dalam pernyataan kepada bursa saham setempat pada Jumat, TCS mengatakan, pihaknya mengajukan kurang dari 10 permohonan PERM selama dua tahun terakhir dan tidak memperkirakan penangguhan ini akan memengaruhi strategi tenaga kerja maupun kerja sama dengan klien.
TCS kembali menegaskan rencananya merekrut 15.000 karyawan tambahan di AS dalam lima tahun.
Ghosh mengatakan, perusahaan TI India kemungkinan akan memusatkan perekrutan di AS pada posisi konsultasi yang berhubungan langsung dengan klien, arsitektur sistem, dan rekayasa khusus, sementara penggunaan subkontraktor di negara itu menawarkan “fleksibilitas yang lebih cepat”.
Ia memperkirakan, perusahaan akan lebih banyak menggunakan subkontraktor dan merekrut tenaga kerja lokal secara selektif di AS dalam enam hingga 12 bulan ke depan, sembari mengkaji kembali seberapa banyak pekerjaan di AS yang dapat dialihkan ke luar negeri.

Leave a Reply