Dokter spesialis kanker yang menangani Teresa Hon, Dr Valerie Yang Shiwen dari OncoCare Cancer Centre, menjelaskan.
Langka dan sangat ganas: Kanker ini langka dan hanya ada 100 kasus glioblastoma yang tercatat di Singapua setiap tahunnya.
Penyebab: Belum diketahui penyebab pasti dari glioblastoma, meski ada beberapa faktor genetik bawaan yang dapat membuat sebagian pasien rentan terkena penyakit seperti ini.
Gejala: Di antaranya berupa sakit kepala yang berkepanjangan, kejang-kejang, dan penurunan fungsi saraf yang kian memburuk, seperti lemas, kesulitan berbicara, masalah penglihatan, penurunan daya ingat, atau perubahan kepribadian.
Pengobatan: Operasi biasanya dilakukan untuk mengangkat tumor sebanyak mungkin dan seaman mungkin, lalu disusul dengan terapi radiasi dan juga kemoterapi.
Sering kali, pengangkatan tumor secara menyeluruh tidak dapat dilakukan karena dapat merusak struktur otak yang penting dan itu dapat menyebabkan tubuh lemas, kelumpuhan, kehilangan kemampuan berbicara ataupun penglihatan, perubahan kepribadian, kehilangan kontrol diri, penurunan kesadaran yang besar atau koma, dan mengganggu pernafasan, menelan, serta fungsi hati dan juga paru-paru.
Sekalipun ada kasus di mana seluruh tumor yang kasat mata dapat diangkat, sel-sel kanker mikroskopis, yang sudah terlanjut menyusup ke jaringan otak, tetap berisiko meninggalkan jejak. Terapi radiasi, kemoterapi, dan bentuk pengobatan lainnya biasanya tidak dapat mengeliminasi semua sel kanker yang masih bertahan.
Orang-orang yang menderita glioblastoma biasanya bertahan 12 hingga 18 bulan.

Leave a Reply